Inspiratif! Pengusaha Kafe Ini Pekerjakan Difabel Sebagai Barista hingga Kasir

Devi Setya - detikFood Kamis, 09 Mei 2019 18:10 WIB
Foto: Devi S. Lestari/detikfood Foto: Devi S. Lestari/detikfood
Jakarta - Usia kafe ini memang baru sebulan tapi antusiasme pengunjungnya membludak tak terbendung. Ternyata para pegawai di kafe ini adalah orang-orang difabel.

Berawal dari mirisnya nasib para difabel, Mario Gultom dan beberapa rekannya memberanikan diri membuka coffee shop ramah difabel. Lewat kedai kopi berlabel Sunyi House of Coffee and Hope, Mario ingin para difabel memiliki kesempatan dan harapan yang sama dengan orang normal.

Kepada detikFood, Mario membagikan kisahnya membangun kafe di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan yang dijalankan orang-orang istimewa ini. "Sunyi Coffee ini sudah dirancang sejak 2016 tapi kita baru bisa mengaplikasikannya 3 April 2019. Umur kita baru sekitar sebulan," kata Mario membuka perbincangan.
Inspiratif! Pengusaha Kafe Ini Pekerjakan Difabel Sebagai Barista hingga KasirFoto: Devi S. Lestari/detikfood

Baca juga : Hebat! Pelayan Robot di Kafe Ini Dikendalikan oleh Para Difabel

Pria ramah ini lebih lanjut menjelaskan kafe ini terbentuk setelah Mario mengenyam pendidikan sosial entrepreneurship di Singapura. Menurutnya, masyarakat Singapura bisa maju karena sistem kesetaraan yang membuat semua orang mendapatkan hak dan kewajiban yang sama.

Sementara di Indonesia, orang-orang dengan keterbatasan masih sangat susah mendapatkan kesempatan yang sama dengan orang normal. "Saya kemudian mendedikasikan diri, saya terjun ke komunitas mereka, ngobrol, pengen tahu gimana sih rasanya, pengen masuk ke sepatu mereka istilahnya," lanjut Mario.

Setelah terjun langsung, Mario terkejut karena mengetahui talenta mereka sangat luar biasa. Dari ini Mario menyiapkan wadah untuk para difabel agar bisa bekerja seperti orang lain. "Saya juga mau kasih tahu warga Jakarta kalau mereka ini tidak kurang, mereka justru punya banyak kelebihan. Hanya saja ada kata-kata disabilitas yang membuat orang mendiskriminasikan mereka," ujar Mario.

Kafe besutan Mario ini juga dioperasikan oleh para difabel. Total ada 3 barista tuli dan 2 barista tuna daksa. Untuk barista tuna daksa ini terdiri dari barista satu tangan dan barista dengan kursi roda.
Inspiratif! Pengusaha Kafe Ini Pekerjakan Difabel Sebagai Barista hingga KasirFoto: Devi S. Lestari/detikfood

Demikian juga untuk pegawai kasir, cook hingga waiters yang bertugas. Semuanya adalah teman-teman difabel. Kendati demikian, tak perlu ragu dengan kualitas makanan, minuman maupun pelayanan yang diberikan.

Para barista sudah dilatih cara meracik kopi sehingga bisa menghasilkan kualitas kopi yang nikmat. "Semua barista awalnya tidak memiliki basic kopi sama sekali, bahkan ada yang sama sekali belum kerja. Tapi dari training yang kami berikan, dari target 6 bulan, teryata mereka bisa mahir dalam 3 bulan. Mereka luar biasa," beber Mario.

Semangat dan motivasi tinggi membuat orang-orang istimewa ini bisa bekerja dengan baik. Sensasi dan pengalaman luar biasa juga bisa dirasakan pengunjung yang datang ke kafe ini.

"Pengunjung bisa langsung pesan makanan minuman di kasir, pakai bahasa kita aja, mereka paham kok. Biasanya juga pakai bahasa isyarat. Pengalaman seperti ini yang juga membuat orang tahu kalau teman-teman difabel ini nggak kurang. Di sini juga bisa duduk bareng, ngobrol, bertukar cerita sama temen difabel," lanjut Mario.

Tak hanya itu, bangunan kafe ini juga didesain dengan khusus. Ada jalur khas untuk para tuna netra, bentuk furniture yang disesuaikan dengan standar internasional difabel, bahkan meja bar dan area barista juga disesuaikan.
Inspiratif! Pengusaha Kafe Ini Pekerjakan Difabel Sebagai Barista hingga KasirFoto: instagram Sunyi Coffee

Baca juga : Luar Biasa! 5 Restoran Ini Pekerjakan Penyandang Disabilitas

Saat kafe sedang sepi, pengunjung bahkan diperbolehkan belajar bahasa isyarat dengan para pagawai di sini. Di salah satu dinding juga terdapat tulisan dengan huruf braille.
Inspiratif! Pengusaha Kafe Ini Pekerjakan Difabel Sebagai Barista hingga KasirFoto: Devi S. Lestari/detikfood


"Syair Keheningan : Tersajak, apalah itu keterbatasan? Terdengar nyaring, terilham hampa. hanyalah ilusi dunia, yang sesungguhnya adalah fana. Peluh merajam, keheningan menimpa. Namun pelik disangka, sunyi pun berbahasa. Keterbatasan hanyalah majas tanpa aksara," kata Mario membacakan bunyi kalimat dengan huruf braille.

"Sunyi bukan tak ada suara, ada obrolan, ada cerita. Sunyi itu artinya diam dari perbedaan arogansi dan kebencian. Semua damai," pungkas Mario seraya menjelaskan filosofi dari nama kafenya ini. (dvs/odi)