Kalau 'Blind Date' Sudah Biasa, Ini 'Blind Iftar' yang Seru

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Selasa, 07 Mei 2019 17:45 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Sebuah komunitas di Dubai punya cara istimewa untuk iftar atau buka puasa. Mereka tak ragu bertemu dengan orang-orang baru dalam konsep 'blind iftar'.

Konsep 'blind date' sudah sangat populer dimana seseorang akan bertemu dengan orang lain yang tidak mereka ketahui. Tujuannya agar lebih akrab dan mungkin ke depannya bisa menjalin hubungan serius.

Hampir mirip dengan konsep 'blind date,' komunitas di Sustainable City, Dubai kembali memperkenalkan 'blind iftar' Ramadhan tahun ini. Dikutip dari Gulf News (7/5), komunitas yang merupakan gabungan penduduk Sustainable City akan menyiapkan makanan buka puasa bagi tamu yang tidak mereka ketahui.

Kalau 'Blind Date' Sudah Biasa, Ini 'Blind Iftar' yang SeruFoto: Istimewa

Tujuannya adalah agar mereka bisa bertemu orang-orang baru, berkenalan, sekaligus mengetahui budaya berbeda. "Ide keseluruhannya ialah membantu penduduk merasakan budaya baru juga," ujar Hadeel Ahmad selaku Direktur Komunikasi Sustainable City.

Baca Juga: Menu Buka Puasa dari India hingga Maroko yang Bikin Ngiler

Ia menjelaskan beberapa penduduk di wilayahnya baru saja datang ke Uni Emirat Arab (UEA) dan merasakan Ramadhan pertama. Ahmad melanjutkan, "Kami ingin mereka mengerti tentang Ramadhan dan memahami untuk bisa bersikap di masyarakat. Tentu saja kami juga ingin warga bertemu satu sama lain, mendapatkan teman baru, bertemu tetangga mereka, sesuatu yang langka di banyak komunitas di UEA," tambahnya.

Kalau 'Blind Date' Sudah Biasa, Ini 'Blind Iftar' yang SeruFoto: Istimewa


Soal prosedur, 'blind iftar' memiliki sistem registrasi mudah. Siapa pun penduduk Sustainable City yang tertarik menjadi tuan rumah bisa mendaftarkan diri sebagai 'penjamu.' Sementara mereka yang mau belajar budaya Islam, Ramadhan, dan berbuka puasa, mereka bisa mendaftarkan diri sebagai 'tamu'.

Ahmad menambahkan, "Kami kemudian mencocokkan keluarga sesuai dengan jumlah para tamu, tempat mereka tinggal, dan latar belakang budaya mereka. Idealnya tuan rumah memberikan jumlah tamu yang ingin mereka undang ke rumah mereka. Kami lalu menyesuaikannya. Kami juga mencoba dan mengajak orang-orang dari berbagai wilayah tinggal untuk bertemu dan buka puasa bersama."

Dari sisi penjamu, seorang espaktriat Yordania bernama Sireen Khalifeh punya pendapat positif. Ia pernah menjadi tuan rumah sebuah keluarga Swedia pada Ramadhan tahun lalu.

"Mereka adalah tetangga saya dan kami belum pernah bertemu atau bersosialisasi sampai hari itu. Keluarga yang terdiri dari 4 orang itu memanggang kue Vanilla untuk kami dan kami semua duduk dan menikmati makan bersama," ujar Sireen.

Kalau 'Blind Date' Sudah Biasa, Ini 'Blind Iftar' yang SeruFoto: Istimewa

Sementara dari sisi tamu, Joe Sinclair dari Australia menikmati pengalamannya buka bersama saat Ramadhan dengan warga lokal. Joe mengatakan, "Itu adalah pengalaman hebat bertemu keluarga baru. Saya belajar banyak tentang budaya mereka dan pentingnya membuat kue."

"Mereka sudah menyiapkan makanan Arab. Menunya prasmanan dan kami semua duduk mengelilingi meja dan makan bersama. Itu sangat bagus. 'Blind iftar' adalah tentang bersosialisasi dan melanjutkan ke depannya," pungkas Joe.

Baca Juga: Menu Buka Puasa ala Rumahan, Bakwan Sayur hingga Lumpia Sayuran
(adr/odi)