Krenyes Gurih Intip Ketan, Camilan Khas Kudus Jelang Ramadan

Akrom Hazami - detikFood Senin, 29 Apr 2019 07:26 WIB
Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Kerak beras ketan ini rasanya renyah gurih dengan semburat manis. Di Kudus, camilan ini jadi penanda bulan ramadan akan segera tiba.

Bulan suci ramadan akan tiba seminggu lagi. Tidak heran jika intip ketan pun mulai mudah ditemui di Kudus. Ada beberapa penjajanya di bilangan Jalan Sunan Kudus, tepatnya di lokasi dandangan.

Adapun nama dandangan sendiri, merupakan kegiatan tradisi dari Sunan Kudus kala itu diadakan di Kudus setiap jelang ramadan. Berbentuk keramaian pasar malam di dekat Menara Kudus dan sekitarnya. Tepatnya di Jalan Sunan Kudus.


Krenyes Gurih Intip Ketan,  Camilan Khas Kudus Jelang RamadanSuprapti sibuk memasak beras ketan di atas wajan. Foto: Akrom Hazami/detikcom

Dandangan tahun ini diadakan 26 April-5 Mei 2019. Dandangan ditandai dengan banyaknya pedagang kaki lima yang menjual beraneka kuliner, pakaian, alat rumah tangga, kerajinan, mainan dan aneka lainnya.

Maka jangan heran jika selama dandangan berlangsung, jalanan disesaki pedagang. Mereka mendirikan stan atau lapak di jalan raya hingga tepi jalan. Praktis, arus kendaraan yang melintas jalanan menjadi tersendat.

Salah satu yang diburu pengunjung adalah penjaja menu khas dandangan, intip ketan. Jajanan ini sudah ada sejak lama. Seperti di stan intip ketan milik Suprapti (42). Stannya berada di seberang Rumah Tahanan (rutan) Kudus.

Ditemui di lapaknya, istri Suyono (45) ini terlihat sibuk melayani pembeli. Ada yang memesan intip ketan Rp 10 ribu-Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Harganya Rp 2.500 per buah intip ketan.

"Intip ketan ini hanya ada saat dandangan. Kami menjualnya saat dandangan saja. Kalau hari biasa, saya jualan minuman ringan di belakang Ramayana Kudus," kata Suprapti di lapaknya. Ibu tiga anak ini enggan untuk menjual intip ketan di hari biasa. Sebab dia ingin melestarikan khas dandangan di Kudus salah satunya intip ketan.

Krenyes Gurih Intip Ketan,  Camilan Khas Kudus Jelang RamadanIntip ketan yang gurih wangi dan legit, enak dimakan hangat. Foto: Dok. Omonganem

"Khasnya dandangan memang intip ketan. Orang yang datang ke lokasi dandangan, banyak yang mencari intip ketan," imbuhnya. Menurutnya, dia telah turun temurun membuat intip ketan. Dia mendapatkan resep bikin intip ketan dari almarhumah ibundanya. Ketika masih hidup, ibundanya berjualan intip ketan di momen dandangan hingga lama.

"Ini memang turun-temurun. Dari ibu saya dulu. Jualan intip ketan," ungkap dia. Begitu ibu meninggal, dia meneruskan jejaknya sampai sekarang. Hingga saat ini berarti Suprapti telah berjualan intip ketan sekitar lima tahun.

Untuk membuatnya sendiri, terlebih dulu Suprapti harus mengolah ketan di rumahnya di Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus. Tak lupa dia juga membawa parutan kelapa serta gula. Saat di lapak, dia dibantu suami atau anaknya memasak ketan.

Intip ketan ini dibuat dari beras ketan yang sudah direndam semalaman. Kemudian ditaruh di atas wajan panas dan diratakan kira-kira sebesar serabi. Ditaburi kelapa parut dan gula. Dimasak dengan api kecil biar tidak cepat hangus dan jika sudah kecokelatan dan wamgi barulah intip ketan diangkat. Lalu ditaruh di atas sepotong daun pisang. Sekilas mirip ledre pisang atau kerak telur dalam ukuran kecil. Rasanya renyah gurih dengan aksen legit gula.

Krenyes Gurih Intip Ketan,  Camilan Khas Kudus Jelang RamadanDimasak dengan api kecil hingga ketan matang dan tak gosong. Foto: Akrom Hazami/detikcom

Jika mau disantap di lokasi, penjual akan menaruhnya ke atas piring dengan alas daun pisang. Namun jika akan disantap di rumah, Suprapti akan menaruhnya di atas alas daun, kemudian di setiap intip ketan akan ditumpuk. Di sela-selanya diberi daun pisang.

"Cocok dimakan pas hangat. Sambil minum teh atau kopi, cocok," ucapnya. Di hari-hari awal dandangan, Suprapti hanya membawa ketan 4 kilogram. Dengan jumlah ketan 4 kg, dia bisa membuat 450 intip ketan. Karena biasanya semakin ramai dandangan di hari-hari terakhir, dia akan menambah ketan hingga 15 kg.

Selama ini, dia a membuka lapak jualannya setiap hari selama dandangan berlangsung. Tepatnya dari pukul 16.00 hingga 22.00 WIB. "Pasti habis ketannya. Karena banyak warga yang membeli," imbuhnya.

Harry Pujo (41), warga Rendeng, Kudus, mengaku merupakan penggemar intip ketan sejak lama. Ditemui tengah membeli intip ketan, Harry bersama anaknya, rela antre.

"Saya memang suka dengan intip ketan. Saya selalu membeli intip ketan saat dandangan diadakan," kata Harry.

(odi/odi)