Makanan Terakhir Korban Pembunuhan Bisa Jadi Alat Identifikasi Pembunuhnya

Sonia Basoni - detikFood Rabu, 05 Des 2018 15:10 WIB
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Untuk menyelesaikan kasus, dua ahli botani meneliti bagian perut hingga makanan terakhir yang dicerna korban. Ini dilakukan guna mengetahui siapa pembunuh korban tersebut.

Dalam setiap kasus pembunuhan hingga kasus kematian yang misterius, proses autopsi dilakukan untuk mengetahui penyebab seseorang meninggal. Nah, dalam proses otopsi ini melibatkan ahli botani untuk memeriksa lebih lanjut makanan terakhir hingga bagian perut korban untuk mengetahui jejak penyebab kematian.

Baca Juga: Usai Posting Menu Makan Malamnya, Food Blogger Ini Bunuh Diri

Dilansir dari Atlasobscura (05/12), Lisa Pope merupakan ahli forensik yang bertugas di Eugene Police Departement, Amerika. Ia bertugas untuk mendampingi proses autopsi. Tapi tim lain yang memeriksa bagian perut korban, untuk mencari jejak atau informasi lainnya.
Makanan Terakhir Korban Pembunuhan Bisa Jadi Alat Identifikasi PembunuhnyaFoto: Istimewa
"Saya biasanya mendampingi proses autopsi. Ini merupakan bagian yang saya tidak suka, karena aromanya tidak sedap. Salah satu dari tim forensik mulai membuka bagian perut dari korban pembunuhan ini, ia kemudian mulai menarik sisa makanan yang belum tercerna secara sempurna," tutur Lisa.

"Ia (ahli forensik), menarik potongan burger yang berukuran cukup besar, irisan keju, bacon, dan potongan kentang goreng," lanjutnya. Di sini Lisa baru berkerja. Ia menemukan bahwa potongan kentang goreng itu masih tertempel kulit kentang, dan merupakan menu andalan dari Wendy's.

Ia menyadari bahwa ada gerai Wendy's tak jauh dari lokasi pembunuhan. Setelah itu Lisa langsung menghubungi petugas lapangan, dan meminta Wendy's di lokasi itu untuk memberikan rekaman CCTV. Mereka akhirnya menemukan bahwa korban ini sempat makan di sana dengan tersangka pembunuhan, sebelum ia dibunuh beberapa waktu kemudian.
Makanan Terakhir Korban Pembunuhan Bisa Jadi Alat Identifikasi PembunuhnyaFoto: Istimewa
"Jika bukan karena bagian makanan di dalam perut, kami tidak akan mungkin bisa mendapatkan rekaman CCTV itu," ujar Pope.

Dulu autopsi dilakukan tidak terlalu mendalam, karena tenaga medis masih berkembang. Namun kini banyak ahli forensik yang hanya memeriksa bagian perut korban saja karena dalam kandungan makanan hingga organ di perut dapat ditentukan penyebab kematian hingga sang pembunuh.

Biasanya pihak kepolisian akan menyewa dua ahli forensik botani, seperti Jane Bock dan David Noris untuk meneliti partikel kecil makanan yang terdapat dalam perut korban. Sisa makanan ini biasanya bentuknya sudah tidak diketahui lagi dan hanya bisa diteliti di bawah mikroskop.

"Bagian perut manusia berhenti berkerja setelah mereka meninggal, ini menciptakan proses pencernaan yang tidak sempurna. Biasanya dibutuhkan waktu sekitar 6 jam, agar makanan tercerna dengan sempurna. Lewat hal ini kami bisa memprediksikan kapan waktu kematian dari korban," ungkap Jane dan David.
Makanan Terakhir Korban Pembunuhan Bisa Jadi Alat Identifikasi PembunuhnyaFoto: Istimewa
Menurut dunia medis kini bagian perut dari seseorang yang sudah meninggal, lebih dapat diandalkan untuk mengetahui penyebab dan waktu kematian dibandingkan bagian tubuh lain. Apalagi jika diteliti lewat makanan terakhir yang korban konsumsi sebelum kematiannya.

"Jika Anda memperhatikan tidak ada buku tentang materi botani di ilmu forensik. Ini merupakan salah satu alasan kami berdua menciptakan buku tentang forensik, melalui ilmu botani," tutur David.

Meski begitu Jane dan David telah berhasil membantu pihak kepolisian dalam menyelesaikan berbagai kasus pembunuhan lewat forensik botani. Ke depannya ilmu forensik dengan botani ini diharapkan dapat membantu memudahkan proses forensik.

Baca Juga: Sadis! Wanita Ini Mutilasi Kekasihnya dan Memasaknya Jadi Nasi Kabsa (sob/adr)