Ayo Minum Kopi Indonesia

Bukan Hanya Kopi Luwak, Kopi Toratima dari Sigi Juga Difermentasi Hewan

Devi Setya - detikFood Rabu, 03 Okt 2018 13:25 WIB
Foto: Istimewa/pesona Indonesia
Jakarta - Kopi luwak bukan satu-satunya jenis kopi lokal yang melewati proses fermentasi alami oleh hewan. Ada kopi toratima dari Sulawesi Tengah yang tak kalah unik.

Kopi dari Sigi, Sulawesi Tengah memang tidak sepopuler kopi Toraja. Tapi bukan berarti kenikmatannya bisa dibelakangkan. Kabupaten Sigi punya kopi khas yang unik, bahkan kopi ini dianggap saingan kopi luwak.
Bukan Hanya Kopi Luwak, Kopi Toratima dari Sigi Juga Difermentasi HewanFoto: Istimewa
Di kabupaten Sigi tepatnya di Desa Porelea, kecamatan Pipikoro ada kopi toratima. Kopi ini melalui proses fermentasi alami lewat bantuan hewan seperti kelelawar, tikus dan tupai.

Baca juga : Sulawesi Tengah Juga Punya Kopi yang Nikmat, Termasuk dari Donggala

Tidak seperti kopi luwak yang mengalami fermentasi di dalam sistem pencernaannya, kopi toratima ini difermentasi hanya lewat mulut hewan.

Buah kopi yang sudah matang akan dimakan oleh hewan-hewan ini, mereka mengunyah dan makan buahnya. Namun bagian biji kopinya tidak ikut dimakan melainkan dilepehkan.
Bukan Hanya Kopi Luwak, Kopi Toratima dari Sigi Juga Difermentasi HewanFoto: detikcom
Biji kopi hasil lepehan ini kerap disebut sebagai beras kopi yang warnanya putih. Beras kopi inilah yang kemudian dikumpulkan oleh masyarakat lalu disangrai dan ditumbuk menjadi bubuk kopi.

Kabarnya, kopi toratima ini punya aroma dan rasa yang lebih nikmat dibandingkan kopi yang dipanen dengan cara dipetik. Terlebih lagi kopi semakin nikmat karena semua prosesnya dilakukan secara tradisional mulai dari penjemuran, sangrai hingga menumbuk.
Bukan Hanya Kopi Luwak, Kopi Toratima dari Sigi Juga Difermentasi HewanFoto: Istimewa
Baca juga : Mulai Kaledo hingga Kapurung, 5 Kuliner Khas Palu Ini Punya Rasa Enak

Meskipun terkenal enak dan nikmat, kopi toratima memang tidak santer terdengar di pasaran. Karena kopi ini memang tidak dijual bebas melainkan hanya dikonsumsi sendiri.

Selain jadi kopi yang dinikmati harian oleh masyarakat desa, kopi ini juga kerap jadi suguhan ketika ada tamu ataupun saat digelar upacara adat. (dvs/odi)