Komunitas Kuliner

Orang Sulit Diajak Cinta Kuliner Lokal Jadi Salah Satu Hambatan Komunitas

Devi Setya - detikFood Selasa, 25 Sep 2018 12:50 WIB
Foto: detikfood Foto: detikfood
FOKUS BERITA Komunitas Kuliner
Jakarta - Kelihatannya memang hanya jadi wadah untuk berkumpulnya orang-orang pencinta kuliner. Tapi di balik itu, komunitas kuliner juga punya hambatan dan kesulitan.

Diungkapkan Mariska selaku Founder Belanga Indonesia, dalam komunitas memang tidak ada sistem keterikatan semua bisa saja masuk dan bergabung. Namun terkadang sulit mengajak anggota komunitas ini untuk konsisten.

"Nggak ada kita hitam di atas putih, ini bukan lembaga, ini kumpulan orang-orang yang basisnya suka makan. Nggak bisa kita maksa mereka ikut di event kita, karena kadang kendala terbesar itu soal waktu ya," kata Mariska saat ditemui detikFood beberapa waktu lalu.
Orang Sulit Diajak Cinta Kuliner Lokal Jadi Salah Satu Hambatan Komunitas Foto: detikfood
Baca juga : Tak Sekadar Komunitas, Jalansutra Jadi Wadah Majukan Kuliner Indonesia

Wanita berambut panjang ini juga menambahkan, mengajak orang untuk makan itu sesuatu yang mudah tapi mengajak orang untuk lebih perhatian itu yang sulit. "Banyak orang maunya ikut yang acara yang ada makan-makannya aja. Padahal kan yang penting kita bisa ketemu saling ngobrol saling diskusi, makan ada tapi bonus sekaligus kita bisa tahu rasa dan ragam makanan Indonesia," lanjut Mariska.

Beda lagi dengan Lidia Tanod, moderator komunitas Jalansutra. Menurut Lidia, tantangan terbesar dalam sebuah komunitas kuliner itu mengajak orang untuk mengikuti kegiatan pelestarian kuliner.

"Gimana orang tertarik ikut kegiatan kita, karena kendalanya waktu. Terhalang waktu, biaya, jarak," kata Lidia kepada detikFood.

Dalam komunitas Jalansutra ini memang kerap melakukan berbagai kegiatan salah satunya berkumpul untuk menggelar diskusi tentang makanan Indonesia. Namun sayangnya saat acara digelar, beberapa orang tidak bisa hadir karena masalah waktu.
Orang Sulit Diajak Cinta Kuliner Lokal Jadi Salah Satu Hambatan Komunitas Foto: Jalansutra
"Karena nggak semua orang punya waktu saat acara yang kita tentukan. Pengennya kita mengajaak orang berbagi cerita dan menyampaikan cerita. Semakin banyak orang kan semakin banyak cerita yang dibagikan," beber Lidia yang mengatakan saat ini anggota komunitas Jalansutra sudah mencapai ribuan orang.

Sementara dari Komunitas Indonesian Food Blogger (IDFB) yang digawangi Anne juga tak luput dari kendala. Hambatan awalnya diakui Anne sangat terasa saat baru memulai komunitas.

"Memulai komunitas dari nol, di saat blogger belum bisa menghasilkan apa-apa. Ya founder harus berkorban banyak dari segi waktu, tenaga juga uang," kata Anne.

Komunitas berbasis online ini sekarang memang kadang menjadi ladang komersil. Namun Anne mengaku tak selalu bisa menguntungkan. "Bagaikan bisnis ya, nggak selalu menguntungkan. Itu kalau mau dihitung secara komersil tapi saya sebagai founder tidak semata menilai dari situ," lanjutnya.

Anne mengatakan ada saja anggota yang kadang tidak mematuhi aturan main. "Ada yang lewat deadline hehe, alasannya lupa atau lagi di luar kota. Tapi biasanya mereka kasih tau sebelumnya sih dan ini jadi siasat buat kita antisipasi. Hambatan kecilnya ya ini," kata Anne.
Orang Sulit Diajak Cinta Kuliner Lokal Jadi Salah Satu Hambatan Komunitas Foto: Instagram IDFB
Baca juga : Inilah Komunitas Food Blogger Indonesia Pertama

Lebih lanjut Anne juga mengatakan sekarang anggota komunitasnya sudah lebih sering review makanan atau restoran sendiri jadi intensitas untuk meet up jadi lebih jarang. "Dulu memang kita adakan rutin review restoran bareng-bareng, tapi sekarang malah jarang. Pengen lagi kumpul-kumpul tapi memang susah nentuin waktu," lanjut Anne.

Setiap komunitas kuliner nyatanya memang tak bisa luput dari kendala. Namun pastinya setiap kendala bisa diatasi dengan berbagai cara, buktinya beberapa komunitas di atas bisa terus eksis dan anggotanya semakin banyak. (dvs/odi)
FOKUS BERITA Komunitas Kuliner