Tempe dari Kedelai Lokal Lebih Gurih Rasanya, Ini Sebabnya

Dewi Anggraini - detikFood Senin, 24 Sep 2018 19:10 WIB
Foto: Istock Foto: Istock
Jakarta - Tempe yang dibuat dengan kacang kedelai lokal ternyata punya rasa yang lebih gurih. Berbeda dengan pakai kedelai impor, rasanya lebih hambar.

Kacang kedelai jadi salah satu bahan yang sangat laris dipasaran. Ini dikarenakan kacang tersebut merupakan bahan utama pembuatan tempe. Ya, produk fermentasi khas Indonesia yang sudah mendunia.

Kelezatan tempe disukai banyak orang di penjuru dunia, terutama kaum vegetarian. Tempe menjadi alternatif pengganti daging yang tinggi protein dan vitamin B12.

Kendati cara membuat tempe cukup mudah dilakukan, rasa tempe yang dihasilkan ternyata sangat bergantung dari jenis kedelai yang digunakan.

Tempe dari Kedelai Lokal Lebih Punya Rasa yang Gurih SedapFoto: Istock
Ada dua jenis kedelai yang umum digunakan dalam pembuatan tempe saat ini. Kedelai yang ditanam dengan cara rekayasa genetika atau Genetically Modified Organisms (GMO) dan kedelai yang tumbuh secara natural (Non GMO). Banyaknya permintaan atas tempe, membuat Indonesia melakukan impor kedelai dari negara besar seperti Brasil, Amerika Serikat, dan lainnya.

Kedelai impor itu rata-rata ditanam dengan cara GMO. Karenanya memiliki ukuran yang lebih besar dibanding kedelai lokal non GMO.

Meski mengalami rekayasa genetika, kedelai GMO aman dikonsumsi. Hanya saja memiliki rasa yang berbeda dibanding kedelai lokal non GMO.

Baca juga: Begini Proses Fermentasi pada Pembuatan Tempe

Tempe dari Kedelai Lokal Lebih Punya Rasa yang Gurih SedapFoto: Istock
Ditemui detikFood (18/9), RnB Chef Arumdalu, Benedicta Althea Meidistri membeberkan perbedaan rasa kedelai GMO dan non GMO saat diolah menjadi tempe.

"Walau proses fermentasi memakan waktu yang sama, rasanya beda. Rasa kacang kedelai dan kacang merah lokal lebih gurih dan segar," jelas Chef Benedicta Althea.

Ia juga menambahkan kalau kedelai lokal non GMO punya tampilan yang lebih bersih dan tak mudah pecah saat diolah menjadi tempe. Hanya saja, harga kedelai lokal memang lebih mahal dibanding kedelai impor.

"Tapi harganya (kedelai lokal) lebih mahal dibanding dengan kacang kedelai impor. Karena suplaynya kurang begitu banyak, demandnya kurang banyak dan petani-petani sekarang kan sudah meninggalkan (produksi kedelai). Bisa jadi karena nggak ada penerusnya maupun mungkin nggak ada yang beli. Padahal sebenarnya demindnya ada. Cuma belum terekspose aja," pungkasnya.

Tempe dari Kedelai Lokal Lebih Punya Rasa yang Gurih SedapFoto: Istock
Ucapannya juga diperkuat dengan penjelasan Ketua Koperasi Pengrajin Tahu dan Tempe (Kopti) Jawa Barat, Asep Nurdin. Dilansir detikFinance (21/12/06), kedelai yang dihasilkan petani lokal sebenarnya lebih berkualitas dalam hal aroma dan kesegarannya. Tapi pengusaha kedelai harus banting tulang mencari kedelai lokal jika ingin memakainya sebagai bahan baku.

"Kalau lokal itu lebih harum, kualitas lebih segar. Karena kalau impor itu kan pasti sudah dipanen 3 bulan lalu. Tapi masalahnya kedelai lokal ini susah sekali carinya," ujar Asep.

Rasa gurih kedelai lokal juga membuat tempe yang dihasilkan bercitarasa lezat. Berbeda dengan kedelai impor yang rasanya lebih hambar saat diolah menjadi tempe.

Baca juga: Tempe, Superfood yang Hebat (dwa/odi)