Tahun 1900 Kopi Jadi Alat Barter Senjata di Sulsel Demi Lawan Belanda

Muhammad Taufiqqurrahman - detikFood Jumat, 24 Agu 2018 10:36 WIB
Foto: iStock
Makassar - Perang kopi di Sulawesi Selatan (Sulsel) bukan hanya antara dua kerajaan lokal. Kopi juga sempat dijadikan 'amunisi perang' karena menjadi alat barter senjata.

Dua kerajaan yaitu Kerajaan Luwuk dan Kerajaan Sindenreng bersitegang memperebutkan biji emas hitam di Tana Toraja. Karena kopi, kedua kerajaan ini pun saling serang.

Baca Juga: Di Keboen Kopi Ini Bisa Jalan-jalan ke Kebun Kopi hingga Ngopi Enak

Di sekitar tahun 1800, prajurit kerajaan Luwuk bersiap melakukan penyerangan ke basis kerajaan Sindereng. Petinggi kerajaan Luwuk kala itu gundah karena jalur perdagangan kopi di wilayah Timur sepi dan para pembeli berpindah ke arah Barat milik kerajaan Sidenreng, tepatnya di daerah Mandandang.
Tahun 1900 Kopi Jadi Alat Barter Senjata  di Sulsel Demi Lawan BelandaFoto: iStock
Peracik kopi dan pemilik Warung Kopi Toraja, Sulaeman Miting bercerita bahwa penyerangan itu gagal. Pasukan kerajaan Luwuk berhasil dipukul mundur. Namun, untuk memperkuat penguasaan kopi, maka kerajaan Luwuk berhubungan dengan Kerajaan Bone.

"Ada hubungan perkawinan kerajaan Luwu dan Bone. Dan biasanya perkawinan ini sudah menyangkut upeti, termasuk kopi di dalamnya," kata Sulaeman.

Karena perkawinan oleh dua anggota kerajaan, maka kerajaan Luwu meminta bantuan bala tentara untuk kembali menyerbu kerajaan Sindereng. Permintaan itu disanggupi pihak Bone dengan mengirimkan pasukan Passongko Barong (pasukan topi merah) di akhir tahun 1800.
Tahun 1900 Kopi Jadi Alat Barter Senjata  di Sulsel Demi Lawan BelandaFoto: iStock
Akibatnya, kerajaan Sidenreng yang tadinya menduduki wilayah Mandandang berhasil dipukul mundur.

Selain perang klasik itu, perang terkait kopi juga muncul di era Pongtiku di awal tahun 1900. Pongtiku adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia dan berasal dari Tana Toraja. Dia disebut memanfaatkan besarnya harga kopi untuk melakukan barter senjata untuk melawan pemerintah Hinda Belanda. Dia disebut dapat bertahan karena menguasai jalur perdagangan kopi.

Ashabul Kahpi dari Imagined Historia Makassar mengatakan budidaya kopi mulai diperkenalkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1830 lewat program Cultuurstelsel.

Penyebaran budidaya kopi pada masa Hindia-Belanda dibagi dalam beberapa distrik dan berfokus pada wilayah-wilayah dataran tinggi dengan jumlah tanaman sekitar 33 juta pohon kopi. Distrik Utara di wilayah Kabupaten Bantaeng, Distrik Selatan yaitu Bulukumba dan Sinjai, serta Distrik Timur di wilayah Kepulauan Selayar.
Tahun 1900 Kopi Jadi Alat Barter Senjata  di Sulsel Demi Lawan BelandaFoto: iStock
"Kebijakan tanam paksa tidak hanya berdampak di Jawa dan Sumatera teapi juga di Sulawesi. Meski kebijakan tanam paksa tidak diberlakukan mutlak di Sulawesi, tetapi kopi diperkenalkan melalui kerjasama antara kepala kampung," terang Kahpi.

Pada abad-19, kopi di Sulsel disebut menjadi salah satu ekspor tersebesar Hindia Belanda dan melebihi produksi beras.

"Hingga tahun 1872, pohon kopi yang ditanam di Sulsel mencaoai sekitar 33 juta pohon," ucapnya.

Baca Juga: Sudah Ada Sejak 1927, Ini Es Kopi Susu Legendaris di Jakarta! (sob/adr)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com