Pria Ini Dulunya Hanya Pencuci Piring tapi Kini Jadi Chef Michelin Star

Devi Setya - detikFood Minggu, 25 Feb 2018 15:30 WIB
Foto: Instagram @alan_geaam Foto: Instagram @alan_geaam
Jakarta - Roda kehidupan selalu berputar. Buktinya, seorang pria Lebanon yang dulu hanya pencuci piring tapi kini bisa jadi chef berbakat yang diakui dunia.

Tidak ada yang pernah menyangka Alan Geaam bisa menyandang gelar sebagai chef berbintang Michelin. Pasalnya ia dahulu hanya pria muda tunawisma yang bekerja sebagai pencuci piring demi menyambung hidup. Kisah haru yang berujung kesuksesan ini bisa jadi pelajaran berharga, terutama untuk dirinya sendiri.

Dilansir dari Asia One, Alan Geaam pertama kali tiba di Paris pada dua dekade lalu, keadaannya sangat memprihatinkan. Ia tidak memiliki tempat tinggal dan harus tidur di pinggir jalan, tidak memiliki uang serta hanya mampu sedikit bahasa Prancis.

Pria Ini Dulunya Hanya Pencuci Piring tapi Kini Jadi Chef Michelin StarFoto: Instagram @alan_geaam

Belum lama ini Geaam baru saja didapuk menerima penghargaan sekaligus pengakuan jika dirinya berhak menerima gelar sebagai Chef Michelin Star untuk restoran barunya yang terkenal di kawasan Arc de Triomphe.

"Saya tidak pernah berpikir Michelin akan tertarik pada orang seperti Saya. Pasalnya Saya belajar memasak sendiri, bahkan di usia 19 tahun Saya memulai karir sebagai pencuci piring," katanya kepada AFP.

Geaam mengira gelar ini hanya untuk chef kelas atas. "Saya pikir kriterianya adalah chef hotel mewah, dilatih di sekolah bagus, tetapi ternyata tidak. Ini adalah kejutan yang menyenangkan," lanjut Geaam yang kini berusia 43 tahun.

Geaam adalah anak dari orangtua asal Lebanon, hingga akhirnya mereka meninggalkan tanah airnya karena konflik peperangan. Namun bakat memasak Geaam sudah bisa dilihat sejak masih kecil. Ia tertarik menonton acara memasak dibandingkan acara kartun.

Pria Ini Dulunya Hanya Pencuci Piring tapi Kini Jadi Chef Michelin StarFoto: Instagram @alan_geaam

Ia mulai memasak saat melakukan pelayaran di Lebanon, atasannya merasa sangat terkesan dengan makanan yang dimasak Geaam sehingga menjadikan ia sebagai koki pribadi. Namun menjadi koki di Prancis sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya.

Kisahnya berawal saat ia bekerja sebagai pencuci piring, kala itu chef di restorannya mengalami luka cukup parah karena tangannya teriris pisau sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

"Saya bekerja di siang hari sebagai pekerja bangunan dan pada malam hari mengantarkan pizza dan mencuci piring. Suatu malam juru masak memotong tangannya dan harus pergi ke rumah sakit. Tidak ada yang bertanya kepada saya, tapi saya langsung mengambil alih, ada 14 meja di restoran itu yang harus dilayani. Saya hanya membuatkan makanan pelanggan dan mereka sangat senang," kenang Geaam.

"Kamu bisa memasak!", komentar pemilik restoran dan iapun pengiyakan. "Alasan Saya memasak adalah membuat orang lain senang," kata Geaam.

Dengan mendapatkan predikat Chef Michelin Star, Geaam lantas semakin mendapat banyak pujian. Gault Millau adalah kritikus restoran yang membimbingnya membuat langoustin dengan brown sauce yang dibumbui kapulaga Vietnam.

Alexander Lobrano, pengarang "Hungry for Paris", bahkan lebih hebat lagi, dengan menyatakan "Chef yang lembut dan cerdik ini sebagai salah satu orang gastronomi Paris yang tenang yang memiliki masa depan yang cemerlang."

Salah satu hidangan favorit andalan Geaam saat ini adalah escalope foie gras yang diolah dengan delima yang disajikan dengan tartlette bit dan delima.

"Saya makan banyak buah delima saat masih kecil," katanya. "Saya membuat jus bersama, saya membuat banyak hidangan dan saya suka menempatkan sentuhan Lebanon ini dengan sesuatu yang sangat Prancis seperti foie gras," kata Geaam.

Sejak Geaam mendapat bintang Michelin pada Senin malam lalu, telepon restorannya belum berhenti berdering.

Pria Ini Dulunya Hanya Pencuci Piring tapi Kini Jadi Chef Michelin StarFoto: Instagram @alan_geaam

"Anda bisa mengkritik kriteria Michelin tapi saya bisa memberi bukti dan dampaknya, sebuah bintang secara besar-besaran meningkatkan restoran." Dalam beberapa jam restoran kami menerima reservasi untuk tiga minggu kedepan. Ini cukup menarik," katanya.

Geaam yang menceritakan bagaimana anaknya membual kepada teman-temannya di sekolah bahwa ayahnya mendapat bintang Michelin, menyerahkan kesuksesannya ke orang tuanya sendiri, yang kehilangan segalanya di Lebanon.

Dia mengatakan membantu ayahnya di toko kelontongnya saat di usia 10 tahun memberinya pelajaran untuk bisnis. Sementara ibu "mengajari saya bagaimana mencintai orang dan cara memasak," pungkas Geaam. (lus/odi)