Lemang Wak Saleh yang Gurih Wangi dari Lhokseumawe Jadi Santapan Buka Puasa Legendaris

Datuk Haris Molana - detikFood Senin, 29 Mei 2017 15:05 WIB
Foto: detikcom
Jakarta - Lemang atau lamang tak hanya di Sumatra Barat. Di Lhokseumawe, Aceh juga punya favorit menikmati lemang hangat saat berbuka puasa.

Salah satu penjuang lemang yang tersohor adalah Lemang Wak Saleh atau Wak Leh. Teksturnya beras ketan yang lembut dengan semburat wangi daun pisang menjadi ciri khasnya.

Ya, Lemang Wak Leh itu telah menjadi makanan favorit selama Ramadan. Bisnis lemang ini telah dilakoni almarhum Saleh alias Wak Leh sejak tahun 1968. Sepeninggal Wak Leh , kini Marzuki, salah seorang putranya yang meneruskan usaha lemang.

Lemang Wak Saleh yang Gurih Wangi dari Lhokseumawe Jadi Santapan Buka Puasa LegendarisFoto: detikcom

Wak Leh dan anaknya Marzuki merupakan warga di dusun Blang Rayeuk, desa Tumpok Teungeh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Aceh.

Saat disambangi detikcom, Senin (29/5/2017). Marzuki menyatakan proses pembuatan lemang itu dimulai pukul 10.00 WIB. Ada 4 orang pekerja yang membantunya.

Proses pembuatan lemang lumayan lama. Pertama disiapkan potongan-potongan bambu sekitar 60 cm, selanjutnya daun pisang muda digulung dan dimasukkan ke dalam bilah bambu.

Beras ketan yang sudah dicuci kemudian dimasukkan ke dalamnya. Lalu diberi santan dan bumbu racikannya. Terakhir ujung bambu ditutup dan di tata rapi di atas api tungku panggangan.

Lemang Wak Saleh yang Gurih Wangi dari Lhokseumawe Jadi Santapan Buka Puasa LegendarisFoto: detikcom

Sementara di bawah tungku, sabut kepala mulai mengeluarkan asap. Jika api makin membesar, maka harus dikurangi. Api sedapat mungkin dibuat agar tidak membesar, sehingga lemang masak secara merata dan tektur ketan jadi lembut.

Dari tangan Marzuki dan keluarganya resep lemang dipertahankan. Hingga kini rasanya tetap lembut gurih dengan aroma wangi santan dan daun pisang yang khas.
"Pemanggangan lemang sekitar satu jam setengah, dengan membalik-balik agar merata masaknya. Setiap harinya saya mampu memproduksi lemang hingga 100 potong bambu," tambah Marzuki.

Setiap harinya, Marzuki mengaku meraup keuntungan Rp 3 juta dari hasil penjualan lemang selama bulan Ramadan. "Lemang ini kemudian kami jual ke pasar Inpres dan Pasar Pusong Lhokseumawe. Harga jualnya bervariasi, untuk harga per bambu berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu. Alhamdulillah, kalau saya bawa ke pasar, gak sampai satu jam lemang pada laku semua," sebut Marzuki.

Lemang Wak Saleh yang Gurih Wangi dari Lhokseumawe Jadi Santapan Buka Puasa LegendarisFoto: detikcom

Saat ini, kendala utamanya adalah bahan baku, langka dan mahal. Untuk serabut kelapa harus dipesan dari Geurugok, Bireuen, dengan biaya mencapai Rp 600 ribu per truk. Sementara beras ketan dibeli dari Medan dan hanya rempah-rempah untuk bumbu yang dibeli di kawasan itu.

"Kami bersyukur, pelanggan masih mengenang ayah kami dengan cita rasa lemangnya yang bisa kami pertahankan. Jika masyarakat mau mencoba, bisa langsung ke rumah atau ke Pasar Pusong dan Inpres Lhokseumawe. Setiap sorenya di bulan Ramadan kami jajakan di sana," sebut Marzuki.

Nah, Bagi Anda yang sedang Ramadan di Kota Lhokseumawe, jangan lupa mampir dan cicipi Lemang Wak Leh yang sudah tersohor sejak tahun 90-an itu.

(adr/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com