Kaldu Tulang Jadi Tren Minuman Sehat, Harga Tulang Sapi Melonjak Tajam

Odilia Winneke Setiawati - detikFood Jumat, 07 Apr 2017 06:14 WIB
Foto: iStock
Jakarta - Sejak 2 tahun silam minum kaldu tulang jadi gaya hidup sehat. Akibatnya kini harga tulang sapi makin mahal di beberapa kota Amerika.

Gaya hidup sehat yang dianut oleh kaum hipster dan milennial di kota-kota besar Amerika berpengaruh pada persediaan makanan. Termasuk harga tulang-tulang sapi. Umumnya tulang sapi dijadikan makanan anjing dan dijual sangat murah. Tapi tren minum kaldu tulang dan daging telah membuat harga tulang sapi naik. Terutama di New York, Austin dan Los Angeles.

Kaldu Tulang Jadi Tren Minuman Sehat, Harga Tulang Sapi Melonjak TajamFoto: Fox News

Padahal minum kaldu tulang sapi dan kaldu daging sudah ada sejak berabad silam. Justus vo Liebig seorang ahlli kimia pada abad 18 memakai kaldu daging untuk tambahan nutrisi orang miskin.

Sementara di tahun 1860 rumah sakit di London memakai 12.000 panci kaldu sapi yang disebut teh setiap tahun untuk memberi makan pasien mereka. Orangpun mulai mencermati perbedaan kaldu daging dan kaldu tulang. Kaldu tulangpun direbus hingga lebih dari 10 jam untuk mendapatkan ekstrak terbaik untuk diminum.

Sudah ada anjuran dari para ahli gizi untuk meninggalkan kaldu daging sebagai minuman sehat. Namun, tren minum kaldu sapi belum surut. Akibatnya harga tulang sapi yang dikenal sebagai 'dog food' yang murah kini makin mahal. Selain itu sulit didapat.

Kaldu Tulang Jadi Tren Minuman Sehat, Harga Tulang Sapi Melonjak TajamFoto: iStock

'Kini seorang tukang daging di Seattle bisa menjual tulang sapi sekitar Rp 85.000 per kilogram. Biasanya hanya Rp 40.000 per bungkus sekitar 15 kg - 25 kg,' ungkap Tress Tellig, pemilik perusahaan kaldu Salt, Fire & Time, seperti dilaporkan npr.org (4/4/2017).

Tingginya permintaan tulang sapi membuat stok tulang sapi di peternakan selalu habis. Seperti yang dialami Jenni Hariss dari peternakan White Oak Pastures di Georgia.

'Dengkul sapi, sumsum dan tulang-tulang selalu habis terjual. Hampir selalu tak ada yang tersisa di akhir pekan,' tutur Jenni seperti dikabarkan foxnews (6/4/2017).

Kini tulang, dengkul dan sumsum sapi bukan lagi makanan anjing dan produk sisa. Gaya hidup sehat membuat harga produk sampingan itu makin mahal. (odi/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com