Menurut The Nordic Food Lab, Darah dan Feses Bisa Jadi Sumber Makanan Masa Depan

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Minggu, 04 Des 2016 16:30 WIB
Foto: The Nordic Food Lab Foto: The Nordic Food Lab
Jakarta - Sekelompok chef dan peneliti Denmark menyarankan konsumsi darah, serangga, dan feses. Semua agar ketersediaan pangan dunia tetap terjaga.

The Nordic Lab adalah tim bentukan Chef Rene Redzepi dari restoran Noma dan Claus Mayer. Tim yang didirikan tahun 2008 ini bertujuan mengeksplorasi bahan baku mentah di negara-negara Nordik, Eropa. Serta mengeksplorasi metode penyediaan makanan enak yang dapat digunakan secara berkelanjutan untuk masyarakat global.

Selama hampir 10 tahun The Nordic Lab melibatkan chef, peneliti, desainer, dan pakar keilmuan lain untuk pergi keliling dunia. Tujuannya mengumpulkan pendekatan-pendekatan holistik yang berkaitan soal makanan.

Menurut <i>The Nordic Food Lab</i>, Darah dan Feses Bisa Jadi Sumber Makanan Masa DepanFoto: The Nordic Food Lab

"Kami berusaha bekerja dengan seluruh jenis bahan makanan. Seperti serangga, darah, ubur-ubur, produk fermentasi yang kadang baunya tak sedap, dan produk lain yang nampak busuk. Semua ini tentang memberi kepercayaan diri lebih pada masyarakat dengan produk berbeda. Juga menghubungkan kembali proses dalam produksi makanan," tutur Roberto Flore selaku Kepala Penelitian dan Pengembangan Kuliner The Nordic Food Lab kepada Independent (30/11).

Menurutnya salah satu masalah utama dari keberlanjutan pangan adalah putusnya hubungan manusia dengan makanan. "Kita tidak tahu berapa banyak sebuah bahan makanan diproduksi atau bagaimana cara menangani makanan tertentu," tambahnya.

Kini para peneliti sedang berusaha membuat serangga yang bisa dimakan terlihat menarik selera. Seperti semut madu di Warlpiri, gurun Australia. Kabarnya tiap semut di sana punya rasa berbeda. Seperti madu, gelap, manis dan juga asam, dengan rasa tertinggal mirip strawberry liar.

Peneliti juga sedang mengembangkan darah binatang sebagai pengganti telur. Ini supaya masalah intoleransi telur yang terjadi pada banyak anak di Eropa bisa teratasi.

Menurut <i>The Nordic Food Lab</i>, Darah dan Feses Bisa Jadi Sumber Makanan Masa DepanFoto: The Nordic Food Lab

Ada pula wacana menjadikan feses sebagai sumber makanan. Mengingat gajah muda, kuda nil, koala, kelinci, dan panda mengonsumsi feses induk mereka untuk mendapat mikroba menyehatkan bagi saluran pencernaan.

Sudah ada beberapa bukti feses dikonsumsi di dunia. Seperti feses ulat yang difermentasi dan dijadikan penambah cita rasa nasi di Jepang. Juga kopi luwak yang diproses dari feses luwak.

Menurut Flore cara pandangnya terhadap makanan berubah usai dirinya berkerja di laboratorium makanan. Ia mendapat banyak perspektif baru soal makanan. Semua soal bisa dimakan atau tidak bisa dimakan. Terlepas dari menjijikkan atau tidak menjijikkannya sesuatu yang dimakan orang lain.

"Kita sekarang hidup di sistem internasional dan kita harus menyadari diri kita sebagai bagian dari warga dunia," pungkas Flore.

(adr/odi)
Load Komentar ...