Akhirnya Kafe Kucing di Tokyo Ini Ditutup Permanen oleh Pemerintah

Akhirnya Kafe Kucing di Tokyo Ini Ditutup Permanen oleh Pemerintah

Maya Safira - detikFood
Rabu, 22 Jun 2016 09:36 WIB
Foto: iStock/Rocketnews24
Jakarta - Otoritas Tokyo telah memerintahkan sebuah kafe kucing ditutup secara permanen. Pencabutan izin karena melanggar aturan perlindungan hewan baru pertama kali terjadi di Jepang.

Kafe Neko no Te di Sumida, Tokyo diketahui telah mengabaikan puluhan kucingnya. Membuat kucing-kucing berkembang biak secara tidak terkontrol dan terkena penyakit, lapor Japan Today (18/06). Akhirnya pemerintah Tokyo meminta kafe ditutup secara permanen pada 16 Juni lalu.

Perintah dikeluarkan setelah kafe gagal memperbaiki kesejahteraan hewannya. Pada bulan April lalu, pemerintah metropolitan Tokyo sempat memerintahkan penutupan sementara selama 30 hari. Tindakan dilakukan setelah beberapa konsumen memberi tahu otoritas pada November tahun lalu karena bau tak sedap di kafe dan kekhawatiran lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pada bulan Mei, pemerintah mendapati operator tidak cukup meningkatkan kondisi kafe. Meski telah diminta mengurangi jumlah kucing, ada lebih dari 23 kucing disembunyikan di apartemen dekat kafe. Ini dilakukan operator guna menutup masalah jumlah kucing.

Sebenarnya pada Juni tahun lalu, kafe hanya menempatkan 10 kucing dalam area seluas 30 meter persegi. Akan tetapi pada inspeksi bulan Desember oleh Badan Kesehatan dan Kesejahteraan Metropolitan Tokyo, terdapat 60 kucing di sana, sebut Rocketnews24 (20/06). Sebanyak 44 diantaranya menunjukkan gejala penyakit mirip pilek karena minimnya kebersihan.


Menurut pemerintah Tokyo, operator kafe seharusnya memondokkan kucing di dalam kandang. Namun kucing bebas berkeliaran, memicu kehamilan dan peningkatan tajam jumlah kucing di sana. Pemiliknya juga gagal menyediakan pemeriksaan dokter hewan yang layak bagi kucing.

Adapun kafe kucing menawarkan kesempatan bagi konsumen untuk bersantai dengan ditemani kucing. Dalam beberapa tahun terakhir konsep ini telah meluas dari Asia Timur ke wilayah lainnya di dunia.

(adr/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads