Ekspedisi Langit Nusantara

Dodol Nanas Berukiran Cantik yang Jadi Kepala Kue di Serambi Mekkah

Maya Safira - detikFood Jumat, 15 Apr 2016 18:56 WIB
Foto: detikFood Foto: detikFood
Jakarta - Meuseukat jadi bagian tradisi Aceh. Keunikan dodol nanas ini terletak pada tampilannya yang penuh hiasan cantik.

Jika datang ke ​perhelatan ​besar di Aceh, terdapat kue berbentuk bu​ndar​ besar yang tampak mencolok. Warnanya putih gading agak kekuningan. Sementara teksturnya halus dan kenyal seperti dodol. Tapi berbeda dengan bentuk dodol biasa, penganan ini diberi ukiran-ukiran yang membuatnya makin menarik.

Setelah mencari info di smartphone dengan jaringan ​internet ​cepat, kami pun tahu namanya. Dodol bernama meuseukat itu terbuat dari campuran tepung terigu, gula dan mentega.

Ciri khasnya terletak pada penggunaan nanas​ yang diparut lalu ​disaring. Sehingga kerap mendapat julukan dodol nanas. Layaknya dodol, meuseukat punya citarasa manis legit.

Mengenai hiasannya, permukaan meuseukat umumnya dibentuk dengan penuh detil cantik. Paling banyak berupa hiasan bentuk bunga mawar. Selain itu, terdapat pula ukiran bunga melati dan pintu rumah Aceh yang tak kalah indah.

Bagi masyarakat Aceh, meuseukat mendapat tempat paling tinggi atau utama diantara kue tradisional lainnya. Meuseukat dikatakan sebagai "ulee" atau "kepala" kue dalam bahasa Aceh.

Alasan itu membuat meuseukat lebih banyak disajikan dalam hari-hari besar untuk menyambut kedatangan tamu. Misalnya perayaan Idul Adha dan Idul Fitri.

Meuseukat juga jadi kue hantaran dari pengantin wanita (dara baro) ke pengantin pria (linto baro) sebagai balasan seserahan. Momennya berlangsung setelah pernikahan dalam upacara tueng dara baro.

Dalam tradisi tersebut, pengantin wanita diundang beserta rombongan keluarganya ke rumah mertua. Berbagai kue-kue tradisional sudah mengisi talam (nampan) yang sebelumnya dipakai untuk membawa seserahan dari pihak pria. Meuseukat tak pernah ketinggalan dalam jejeran kue yang dibawa saat tueng dara baro.

Saat perayaan atau upacara, meuseukat dibuat berukuran bulat besar. Tapi di Aceh juga banyak yang menjual meuseukat berbentuk kotak kecil. Bahkan terdapat pula meuseukat tanpa hiasan dengan bentuk silinder panjang seperti umumnya dodol.

Sebelum tsunami, desa Lambung yang tak jauh dari pantai Ulee Lheue jadi sentra penghasil kue khas Aceh. Termasuk meuseukat.

"Dulu daerah Lambung jadi home industry pembuatan meuseukat. Setelah tsunami banyak yang meninggal. Jadi sekarang banyak terpencar seperti di Darussalam dan Lampisang," ungkap Eva dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, saat ditemui di Festival Kuliner Nusantara 2016.

Biasanya meuseukat berukuran kecil dan praktis dijual di toko makanan tradisional Aceh. Salah satu sentra untuk mendapatkan meuseukat ada di desa Lampisang, kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar yang tak jauh dari rumah Cut Nyak Dien. Deretan toko bisa ditemui di sepanjang jalan lintas Banda Aceh-Meulaboh itu. Tentu bisa jadi oleh-oleh khas dari Aceh!

 

"Ayo ikuti Ekspedisi Langit Nusantara dan jadilah saksi keindahan Bumi Indonesia".
Sentra kue tradisional Aceh
Jl. Banda Aceh-Meulaboh
Lampisang
Peukan Bada
Aceh Besar (lus/odi)