Konsumen Tolak Dilayani Pramusaji Penyandang Autisme, Pemilik Restoran Bela Pegawainya

Maya Safira - detikFood Senin, 07 Mar 2016 11:07 WIB
Foto: Manchester Evening News
Jakarta - Pemilik restoran di Inggris mengecam pelanggan karena mendiskreditkan pegawainya. Alasannya karena pengunjung tak mau dilayani oleh pramusaji ya​ng berkebutuhan khusus​.

Mike Jennings, pemilik restoran Grenache di Walkden, mengatakan ia terkejut ketika pengunjung dari satu meja mengusir Andy Foster, pramusaji ​penyandang autisme atau berkebutuhan khusus​. Konsumen itu pun mempertanyakan kenapa restoran mau merekrutnya.

"Para pelanggan nampaknya punya masalah dengan dia (Andy), meski pelayanannya bagus. Saya menjelaskan bahwa ia menderita autisme dan tanggapan mereka adalah mereka tak mau dilayani olehnya. Mereka bertanya mengapa saya memberikan pekerjaan di restoran seperti ini. Saya tidak bisa percaya (komentar itu)," jelas Mike, seperti dilansir dari Manchester Evening News (04/03).

Mike sangat kaget dengan insiden di restoran. Ia pun menulis dalam laman Facebook restoran bahwa siapapun yang memiliki sikap seperti konsumen itu tidak perlu mereservasi meja di Grenache. Ia juga menyebut restorannya tidak melakukan diskriminasi perekrutan pegawai baik karena penyakit, tampilan, warna kulit, ukuran tubuh maupun agama.



Posting itu diberi Like dan Share oleh ratusan orang yang mendukung keputusan restoran dalam membela Andy. Mike dan rekannya, Karen, mengatakan mereka sangat marah akan perilaku pelanggan sehingga merasa harus melawan sikap tersebut.


"Peristiwa itu benar-benar menghantam kepercayaan dirinya (Andy) dan kami harus mendukungnya dan membuat ia tahu bahwa kami tentunya tidak berpikir seperti itu. Yang kami pedulikan adalah seseorang yang punya keinginan dan semangat. Sisanya bisa kami ajarkan," ungkap Mike.

Sementara itu, Andy baru bergabung di restoran tiga minggu lalu. Pria berusia 45 tahun itu bekerja untuk membantu perawatan ibunya yang menderita Alzheimer.



Menurut Andy, ia sudah sering mengalami diskriminasi karena kondisinya sejak lama.

"Saya selalu merasa bahwa itu otomatis kesalahan saya dan saya masuk ke dalam modus pertahanan. Saya selalu berpikir saya harus minta maaf," tutur pria yang didiagnosa mengalami autisme tujuh tahun lalu.

Ia menambahkan bahwa ketika meminta maaf pada pelanggan, konsumen membuat keributan seperti itu.

"Meja lain yang saya layani meninggalkan tip besar jadi saya tahu itu bukan karena saya. Saya coba untuk tidak tersinggung karena sudah mengalaminya berkali-kali di masa lalu. Saya mulai terbiasa dengan itu," jelasnya.

(msa/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com