Sedap Legendaris dari Solo

Empuk Gurih Serabi dengan Rasa Santan Kental

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Selasa, 23 Feb 2016 07:36 WIB
Foto: detikfood
Jakarta -

Serabi merupakan salah satu jenis jajan pasar. Di Solo serabi dibuat dalam bentuk bundar dengan topping santan kental yang gurih wangi.

Ada beragam jenis serabi. Ada yang dibuat dari tepung terigu dengan tekstur agak kenyal, ada juga yang memakai tepung beras yang ringan teksturnya. Umumnya dimakan saat masih hangat.

Serabi Solo punya ciri khas. Bentuknya lebih besar dari serabi umumnya. Diameternya sekitar 15-18 cm. Kelilingnya ada ‘renda’ berupa adonan tipis yang renyah manis.

Tak hanya di Solo, kini serabi khas kota budaya tersebut juga tersedia di beberapa kota besar termasuk Jakarta. Salah satunya di Waroeng Solo yang berada di Joglo @Kemang.

Serabi di sini dibuat langsung saat ada pesanan sehingga kesegarannya terjamin. Kepada detikFood (19/10), Muhamad Darmojo selaku penanggung jawab Joglo Group (pengelola Waroeng Solo) menjelaskan bahan pembuatan serabi.

"Diperlukan tepung terigu, tepung beras, santan kental, dan pengembang untuk membuat serabi," jelasnya.



Adonan ini didiamkan beberapa saat hingga adonan sedikit mengembang. Pembuatan serabi ternyata tak sulit. Adonan dituangkan di atas wajan besi. Adonan diratakan dengan cara ditekan dan diputar sehingga sebagian menempel pada keliling wajan. Adonan inilah yang kemudian jadi ‘renda’.

Santan kentalpun dituang di permukaaannya. Adonan lalu perlu ditutup dan dibakar selama kurang lebih 3 menit. Kematangan ditandai dari permukaan adonan serabi yang sedikit menggelembung.



Bila suka rasa original, maka serabi bisa langsung diangkat. Namun bila suka cokelat atau keju, topping bisa ditambahkan sesaat sebelum serabi diangkat.
Penyajian serabi umumnya dialasi lembaran daun pisang. Selain mencegah lengket, daun pisang juga memberi aroma wangi enak.

Serabi Solo paling enak dinikmati dalam keadaan hangat. Bagian tengahnya putih lembut dengan rasa gurih santan, sementara pinggirnya tipis renyah berwarna kecokelatan.



Di Solo, Serabi Notosuman jadi favorit. Serabi legendaris ini pertama kali dibuat tahun 1923 oleh Hoo Gek Hok.

Saat ini terdapat dua penjual serabi Notosuman di Jl. Mohammad Yamin, Solo. Masing-masing dikenal sebagai serabi bungkus hijau dan serabi bungkus oranye. Keduanya sebenarnya sama, hanya saja serabi bungkus hijau milik Ny. Lydiawati sudah bersertifikat halal.

(adr/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com