'Jual Rugi' dan 'Balik Modal' Jadi Prinsip Bisnis Pemilik Warteg

Makan Enak di Warteg

'Jual Rugi' dan 'Balik Modal' Jadi Prinsip Bisnis Pemilik Warteg

Tania Natalin Simanjuntak - detikFood
Jumat, 15 Jan 2016 13:12 WIB
Foto: Detikfood
Jakarta - War​teg ​jadi tumpuan banyak orang untuk makan​. ​Harga ​makanan di warteg ​di​​kenal terjangkau bagi semua kalangan. ​Lalu bagaimana bisanis ini bertahan?​

Warteg di mata para pengelolanya bisa jadi bisnis menjanjikan untuk menghidupi segenap keluarga. Walau serba sederhana, warteg juga punya sistem ​pengelolaan keuangan ​yang rapi.

Sebagai penyedia makanan, warteg mengerjakan segalanya sendiri. Dari belanja bahan, mengolah makanan mentah sampai jadi, mengurus ruangan warteg, hingga melayani pelanggan. Tak jarang mereka melakukan beberapa hal tersebut di waktu bersamaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itulah yang terjadi pada Warteg Warmo. Hadir sejak tahun 1970, Warmo kini dikelola oleh generasi kedua, Reza Harafi dengan 12 pegawainya. Mereka bergantian menjaga dan mengelola warteg tersebut setiap pukul 7, baik 7 pagi atau malam.



“Pukul 7 pagi, yang belanja dari ​pasar ​induk mulai motong-motong dan masak nasi serta lauk daging, lalu ditaruh di etalase. Masaknya bisa sampai jam 9 pagi. Mereka kerja dari 7 pagi sampe 7 malam. Nanti yang kerja jam 7 malam masak lauk yang sudah habis sampai jam 2 pagi dan kerja sampai jam 7 pagi besok harinya,” jelas Reza.

Pria berusia 40 tahun ini juga menjelaskan suka-dukanya menjalankan warteg. Dua kali habis dilalap si jago merah tak menghentikan langkahnya mempertahankan Warmo. Belum lagi dengan persoalan harga bahan makanan yang terus naik.

“Namanya warteg, kami tak bisa menaikkan harga terlalu tinggi. Kalaupun naik, belum tentu harga menu akan ikut naik saat dijual. Kami akan tahan harganya jika naiknya harga bahan cuma satu atau dua hari. Tapi kalau harga bahannya dari terus-terusan naik, terpaksa harga menu itu kami naikkan,” tuturnya sambil melayani pengunjung.



“Ibaratnya sistem kami itu 'jual rugi', kami tetap jualan walau kita untungnya tipis, bahkan malah rugi. Belum lagi kalau pengunjung yang datang sedikit. Menu seperti daging pun terpaksa kami kecilkan potongannya. Tapi kalau soal bumbu, memang tak pernah kami kurangi,” ungkap Reza yang asli orang Sidakaton, Tegal.

Bertahan dengan sistem 'jual rugi' itu, Reza bisa menghidupi 12 pegawai serta keluarganya di rumah. Walau untuk itu ia harus setia mengelola wartegnya siang dan malam, setiap hari. Tak jarang, hari libur atau hari raya pun ia tetap bekerja.

Berbeda dengan Warteg Mama Iyah, langganan pegawai istana di Jalan Veteran III, Jakarta. Ditemui detikFood pada (13/1), Mama Iyah yang bernama asli Juariah ini bersyukur dengan keadaan wartegnya.



“Dari tahun 1985 saya sudah bantu kakak yang dulu pegang warteg. Pernah sempat digusur, tapi dapat tempat lagi dari bagian Kepala Sub dan Bagian (Kasubbag) di tempat sekarang,” kenangnya.

“Setiap hari, saya bisa belanja di Pasar Petojo sampai 700 ribu – 800 ribu. Dan harga itu naik terus seiring harga bahan makanan. Saya dan adik sudah masak dari subuh, lalu menaruhnya di etalase. Semua yang kami beli di pasar dibagi dua, dan sisanya dimasak siang hari. Ini supaya makanannya tetap enak, bukan makanan​ yang​ dihangatkan. Tapi alhamdullilah, setiap hari modalnya selalu balik, walau memang untungnya tidak terlalu besar. Karena usaha warteg ini, dua anak, adik-adik, serta sepupu yang ikut masak dan melayani pelanggan juga kedapatan rezeki,” ucapnya dengan nada serius.

Jika harga bahan naik, Juariah juga tetap konsisten menahan harga. Harga makanan yang paling mahal di wartegnya adalah Rp 17.000, itu sudah termasuk nasi, ikan, telur, sayur, dan sambal. Ia mengaku tak pernah mengurangi kualitas bumbu dan bahan, walau untung yang ia dapat tipis. Tapi semuanya bisa habis ​saat maghrib, ​sebelum wartegnya tutup.


Kedua orang ini menjadi bukti bahwa bisnis warteg masih menjanjikan. Di tengah terpaan harga bahan yang terus naik dan peminat warteg yang berkurang, mereka masih bisa bertahan dengan cara mereka sendiri.



(tan/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads