Grove atau alat yang punya nama lengkap The Grove Ecosystem sedang populer. Grove terdiri dari tiga bagian, bagian paling bawah adalah akuarium dimana ikan dan tumbuhan hidup di dalamnya. Ikan akan memakan makanan dan membuang kotoran yang terserap dan diubah menjadi nitrat, yaitu pupuk alami bernutrisi untuk tanaman yang ditanam tepat di atasnya.
Rempah dan sayur-sayuran kecil bisa tumbuh di atasnya dan bisa dipanen untuk konsumsi satu keluarga. Di atas rempah-rempah ini, ada juga lahan kecil tempat menanam sayur dan buah-buahan, seperti tomat, lada, dan paprika. Alat ini juga dilengkapi sinar lampu LED yang sebagai cahaya untuk tanaman dan melembabkan udara untuk tanaman.
Ide untuk menciptakan Grove ini muncul ketika Jamie Byron masih menjadi mahasiswa di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dua tahun lalu, ia menciptakan aquaponic greenhouse, yaitu wadah tanamam makanan dengan aquarium di kamar asrama dengan peralatan seadanya. Peralatan ini jadi adalah cikal bakal Grove.
“Grove kami harap bisa menjadi salah satu alat untuk mendukung gerakan sistem pertanian terbarukan yang ramah lingkungan,” ujar Jamie Byron. Tampilannya nampak seperti instalasi seni, tapi nampak juga sebagai kebun kecil.
Selain bisa menanam beragam sayuran, Grove juga menyediakan aplikasi mobile yang bisa memantau semua pertumbuhan sayuran dalam genggaman. Setiap konsumen Grove juga langsung bisa memesan segala bibit dan alat Grove melalui aplikasi ini.
Melalui Kickstarter, Grove dijual dengan harga yang tidak murah. Alat yang disebut-sebut sebagai 'kulkas alami' ini dibanderol seharga USD 2.700 atau sekitar Rp 36.882.000. Walau terbilang mahal, tak sedikit juga konsumen yang telah menggunakannya.
Rata-rata dari konsumen juga berpendapat bahwa Grove memudahkan kehidupan sehari-hari. Mulai dari menyediakan bahan makanan segar, hingga menghadirkan ekosistem kecil yang dipelihara dalam satu kemasan.
(tan/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN