Promosi makanan Indonesia kerap kali diadakan di berbagai negara untuk menarik minat masyarakat luar. Sejauh ini, perkenalan kuliner Nusantara tersebut ditanggapi secara positif oleh warga asing.
Ditemui saat Indonesian Food Festival di Singapura, Chef Vindex Tengker menceritakan pengalamannya selama ini ketika mempromosikan makanan Indonesia ke luar negeri. Menurut juri Master Chef Indonesia Season 1 ini, masyarakat luar sangat antusias dengan kuliner Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang Jerman kan nggak terlalu paham dengan makanan Indonesia, tapi kita bikin restoran di sana selama 4 hari dan semuanya full. Terus mereka benar-benar menikmati sampai bilang kenapa gak ada restoran seperti ini di Jerman," ujar Chef Vindex.
Saat promosi ke luar negeri, ia dan tim juga memperkenalkan bahwa makanan Indonesia sehat dan segar. Sebab selama ini makanan Indonesia mungkin dikonotasikan berminyak, tambahnya.
"Seperti di Frankfurt, kami jual vegetarian set menu. Isiannya nasi kuning, urap sayur, kering tempe dan kentang balado. Itu larisnya minta ampun. Karena walaupun vegetarian tapi rasanya berbeda-beda. Satu hari jualnya 30 set, padahal harganya gak murah sampai 35 euro," jelas chef yang sudah sering ikut memperkenalkan 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI).
Tak berhenti disitu, ia juga menceritakan promosi kuliner Indonesia saat berkunjung ke Roma. Selain orang Indonesia, banyak orang asing yang menyukai sajian ketika itu. Menurutnya, biasa orang Italia sulit menerima makanan asing karena dianggap makanan mereka paling segar dan bagus.
"Makanan kita juga fresh dari cabai dan bahan lainnya yang segar bukan bubuk kering. Baru kemudian dihaluskan dengan blender dan lainnya. Sama seperti marinara mereka yang dibuat dari tomat segar. Mereka pun suka dengan makanan Indonesia," ucap chef Vindex.
Saat ditanya mengenai makanan yang paling disukai masyarakat luar, chef Vindex menyebut mereka suka semua makanan Indonesia. Tidak ada satu yang paling menonjol.
Ia mencontohkan kejadian tahun lalu saat promosi 30 IKTI ke Eropa termasuk Serbia. Di Serbia, festival makanan Indonesia berlangsung selama seminggu. Hari pertama dibuka First Lady, kemudian selama seminggu orang berdatangan ke sana dan suka dengan makanannya.
"Serbia yang kita pikir konservatif dan gak ada restoran Asia, kita bikin nasi goreng mereka suka. Malah minta tambahin cabai. Rendang dan pepes juga suka. Kita buat semua makanan, semuanya habis. Mereka sampai tanya kegiatan ini akan ada terus atau tidak. Tapi ya acaranya cuma seminggu aja," kisahnya.
Melihat respon yang baik ini, menurut chef perlu ada keberlanjutan agar promosi tidak berhenti. Salah satunya dengan membuat restoran Indonesia yang berkualitas di luar negeri.
(msa/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN