Belum lama Prancis membuat kampanye melawan limbah makanan yang akhirnya menjadi aturan hukum. Pria dibalik donasi makanan sisa supermarket Prancis untuk badan amal ini, kini mengajak dunia berperang lawan penyia-nyiaan makanan.
Arash ingin meyakinkan negara-negara Eropa dan negara lainnya untuk mengadopsi larangan serupa. Menurutnya, makanan adalah dasar kehidupan yang menjadi faktor keberadaan manusia.
Rencananya, ia akan mengangkat isu limbah makanan melalui kelompok kampanye ONE, yang didirikan Bono vokalis U2. Arash akan menyampaikannya saat PBB mendiskusikan tujuan pembangunan Milenium untuk mengakhiri kemiskinan pada bulan September. Begitu juga saat G20 economic summit di Turki pada November dan konferensi lingkungan COP21 di Paris bulan Desember.
Arash yang merupakan anggota dewan kota untuk "Divers Droit" di Courbevoie, membujuk parlemen Prancis mengadopsi aturan baru setelah mendapat lebih 200.000 tanda tangan dan dukungan selebriti hanya dalam waktu 4 bulan.
Amandemen telah disetujui sebagai bagian hukum lebih luas, Loi Macron, yang mencakup kegiatan ekonomi dan kesetaraan di Prancis. Diharapkan aturan segera disahkan majelis nasional dan masuk dalam buku undang-undang tak lama lagi.
Dalam aturan ini supermarket dilarang membuang makanan mendekati tanggal kadaluarsa. Mereka juga dilarang sengaja meracuni produk dengan pemutih agar tidak diambil orang dari tempat sampah.
Menurut Arash, pembuangan makanan itu memalukan dan konyol. Terkadang makanan sengaja dirusak padahal masih banyak tunawisma, pengangguran dan orang miskin yang kelaparan.
"Saya sudah pernah dihina, diserang dan dituduh sebagai orang naif dan idealis, tapi saya menjadi seorang anggota dewan lokal karena ingin membantu orang. Mungkin ini terdengar naif jika khawatir tentang keadaan manusia lain, tapi saya tahu bagaimana rasanya kelaparan," tegas Arash, seperti dilansir dari The Guardian (25/05/2015).
Ia mengaku pernah menjadi mahasiswa yang harus membayar sewa kamar. Sehingga ia hanya makan pasta atau kentang sehari sekali pada pukul 5 sore. Tapi menurutnya sangat sulit bekerja atau belajar ketika sedang lapar. Ia selalu berpikir kapan waktu makan selanjutnya datang.
Arash memulai kampanye dengan mengumpulkan dan mendistribusikan makanan tak diinginkan dari supermarket lokal. Tiap harinya mereka akan membantu sekitar 100 orang. Diantaranya adalah ibu tunggal dengan beberapa anak, pensiunan atau pekerja publik bergaji rendah. Sebagian lagi merupakan tunawisma yang hidup di jalanan atau tempat penampungan.
(Maya Safira/Odilia Winneke)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN