Label Makanan Tak Pernah Memberi Informasi Tentang Proses Pemasakan Makanan

Label Makanan Tak Pernah Memberi Informasi Tentang Proses Pemasakan Makanan

- detikFood
Kamis, 15 Jan 2015 10:11 WIB
Label Makanan Tak Pernah Memberi Informasi Tentang Proses Pemasakan Makanan
Foto: Getty Images
Jakarta - Saat membeli makanan kemasan, selain kalori ternyata ​info tentang ​proses pemasakan ​makanan ​juga perlu diperhatikan. Pasalnya, makanan yang diproses cenderung lebih mudah dicerna daripada makanan mentah. Hal ini ​penting​​ karena bisa memicu kenaikan berat badan.​

Berikut ini beberapa ​alasan mengapa dalam label makanan perlu dicantumkan proses pemasakan.

1. Memicu kegemukan

Foto: Getty Images
Pengolahan makanan dengan cara dimasak, dicampur dan ditumbuk sering dilakukan pada industri makanan. Sarden kaleng​an​, bubur instan hingga makanan yang sudah diproses sebelumnya. Jika Anda mengonsumsi makanan mentah yang segar cenderung lebih efektif menurunkan berat badan. Akan tetapi jika Anda mengonsumsi makanan berjenis sama dengan proses pemasakan cenderung dapat menambah berat badan.

2. Makanan dingin lebih kecil kalorinya

Foto: Getty Images
Pengolahan pada makanan mempengaruhi tingkat konsumsi kalori dari karbohidrat, protein ataupun lemak. Energi sering dihasilkan dari pati dan makanan yang mengandung glukosa. Diantara makanan yang dimasak, daya cernanya bervariasi. Pati menjadi lebih tahan terhadap pencernaan bila dalam keadaan dingin. Jadi makanan seperti spaghetti yang sudah dimasak lama atau roti panggang yang sudah dingin cenderung lebih sedikit kalorinya daripada makanan berjenis sama yang dikonsumsi dalam keadaan panas.

3. Energi yang dikeluarkan sedikit

Foto: Getty Images
Makanan yang diproses tidak hanya lebih mudah dicerna, akan tetapi juga membutuhkan tubuh untuk mengeluarkan lebih sedikit energi selama proses pencernaan. Para peneliti memberi makan tikus dengan dua jenis makanan laboratorium. Salah satu tikus diberi makanan dalam bentuk pelet padat sedangkan yang lainnya diberi pelet tak padat atau kembung. Tikus yang mengonsumsi pelet padat dan kembung dengan berat yang sama dan jumlah kalori yang sama. Akan tetapi tikus makan pelet kembung tumbuh lebih berat dan memiliki 30 persen lemak tubuh lebih tinggi.

Pelet kembung mengambil sedikit usaha fisik untuk memecah. Ketika tikus makan, suhu tubuh mereka akan naik karena kerja pencernaan. Makan pelet kembung menyebabkan suhu tubuh berkurang. Karena pelet kembung membutuhkan lebih sedikit energi untuk mencerna, mereka menyebabkan kenaikan berat badan yang lebih besar dan lebih banyak lemak. Tubuh kita bekerja dengan cara yang sama. ​Tubuh​ melakukan sedikit pekerjaan saat ​kita ​mengonsumsi makanan lunak​ ​dengan cara dimasak ataupun ditumbuk.

4. Mengapa label makanan tidak komplit

Foto: Getty Images
Peneliti merasa sulit untuk memprediksi secara tepat berapa banyak kalori ekstra yang diperoleh ketika makanan kita lebih tinggi saat diproses. Sebaliknya, mereka merasa mudah untuk menunjukkan bahwa jika makanan dicerna sepenuhnya, itu akan menghasilkan jumlah tertentu dari kalori.

Label yang kini beredar adalah hanya menuliskan kandungan gizi dan jumlah kalori tanpa memperhitungkan pengolahan makanan. Label makanan mengabaikan jumlah kalori dari proses pencernaan, kerugian bakteri dan energi yang dihabiskan saat dicerna. Biaya lebih rendah untuk barang-barang diproses sehingga jumlah terlalu tinggi pada label mereka berkurang.

5. Waktu untuk perubahan?

Foto: Getty Images
Ide untuk mengembangkan sistem 'lampu lalu lintas' pada label makanan mengingatkan konsumen untuk makanan yang diproses (titik merah), ringan olahan (titik hijau) atau diantara (titik kuning).

Public Health menuntut pendidikan yang lebih pada efek dari bagaimana kita menyiapkan makanan kami pada kenaikan berat badan. Selain menuliskan jumlah kalori juga perlu adanya catat mengenai pengolahan makanan.
Halaman 2 dari 6
(msa/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads