Sudah sejak ribuan tahun silam sejarah mencatat bahwa serangga menjadi salah satu santapan manusia. Kini seiring dengan perkembangan penduduk dunia, serangga menjadi pangan masa depan.
Konsumsi serangga sebagai makanan manusia dikenal dengan istilah Entomophagy. Berasal dari bahasa Yunani, ‘entomon’ yang berarti serangga dan ‘phagein’ yang artinya makan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Indonesia sejak dulu serangga juga menjadi bagian menu keluarga seperti rempeyek laron, belalang goreng, ulat sagu dan entung (ulat) goreng, dan lainnya. Bukan sekedar pelengkap namun serangga juga menjadi sumber protein penting di Thailand.
Kini di Thailand, peternakan serangga dilakukan secara professional karena menghasilkan pendapatan puluhan juta rupiah per tahun. Salah satu peternak serangga yang terbesar adalah Boontham Puthachat, yang kini giat melakukan perluasan usaha.
Konferensi ‘Serangga sebagai Pangan Dunia’ yang digelar bulan Mei lalu di Belanda juga merekomendasikan serangga sebagai sumber pangan bernutrisi. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh 450 peneliti ini disebutkan ada lebih dari 2000 jenis serangga yang layak dikonsumsi oleh manusia.
FAO sebagai badan pangan dunia juga merekomendasikan serangga sebagai pangan yang kaya akan sejumlah vitamin dan asam amino. Kecuali itu peternakan serangga sangat ramah lingkungan.
Agaknya dalam waktu yang tak terlalu lama serangga akan menjadi bagian pangan dunia. Solusi untuk kekurangan pangan yang makin meluas dan pemeliharaan lingkungan yang perlu terus dilakukan.
Peternakan serangga tak perlu lahan luas, hemat biaya, tak perlu banyak air dan tak menghasilkan polusi seperti halnya peternakan sapi atau unggas. Kelebihan ini diharapkan membuat makin banyak Negara menjadikan serangga sebagai sumber pangan dan mengatasi krisis pangan.
(odi/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN