Petani di desa bagian timur laut Thailand yang wilayahnya sangat miskin kini mencari penghasilan dari serangga. Bila hanya bergantung pada pertanian, tanah mereka kering dan tandus. Saat itulah mereka menemukan serangga untuk dikembangbiakkan.
Salah satu pelakunya adalah Boontham Puthachat yang sudah melakukan bisnis sejak empat tahun lalu. Ia memiliki bisnis peternakan serangga dapat dimakan seperti jangkrik. Serangga-serangga itu diberi makanan ayam, labu, dan sayur lainnya agar gemuk dan dapat dijual. Boontham bisa meraih keuntungan per tahun sekitar Rp. 35 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Keluarga Boontham merupakan salah satu dari 30 penjual serangga di desa tersebut. Mereka mengembangkan serangga di halaman belakang rumah. Kemudian serangga dijual untuk masyarakat lokal yang mengonsumsi lebih dari 200 spesies serangga berbeda. Kini perlahan memasuki pasar internasional. Rata-rata pemasukan penduduk desa itu per tahunnya dari penjualan serangga bisa mencapai Rp 25,7 juta.
Β
Banyaknya konsumsi serangga di Thailand membuat munculnya sebuah industri jutaan dollar dengan lebih 20.000 peternakan serangga terdaftar. Menurut UN Food and Agriculture Organization (FAO), kebanyakan diantaranya merupakan industri rumah tangga skala kecil.
Beberapa tahun belakangan Thailand mampu menghasilkan panen tahunan rata-rata 7.500 ton serangga. Thailand menjadi pemimpin dunia dalam menghasilkan serangga yang dapat dimakan.
Β
Untuk meningkatkan bisnis mereka, petani jangkrik di desa itu mendapat bantuan dari pemerintah daerah dan Universitas Khon Kaen yang menjadi pusat penelitian serangga dapat dimakan dan usaha ekspor. Kini mereka bisa mengembangkan produk seperti jangkrik dengan herba Mediterania dan ulat bambu diperkaya dengan krim asam.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN