Tim peneliti berharap model tersebut akan mempercepat proses untuk mengidentifikasi karakteristiknya, seperti ketahanan tanaman terhadap kemarau sehingga petani bisa menanam panen tahan perubahan iklim. Daerah kering menutupi 40 persen lahan dunia dan menjadi rumah bagi 2,5 miliar jiwa.
Di workshop yang baru-baru ini diselenggarakan di Maroko, sekelompok ahli matematika dan peneliti pertanian bertemu. Mereka berdiskusi untuk mencari cara menerapkan matematika untuk mempercepat pencarian pada bank gen pertanian. Terutama untuk sampel tanaman yang tahan pada perubahan lingkungan. Secara global ada 1.700 bank gen pertanian yang menjadi tempat penyimpanan lebih dari tujuh juta sampel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami melihat penyebaran penyakit yang semakin tinggi dibanding beberapa tahun lalu dan isu masalah kesehatan juga lebih banyak ditemui,” tutur Abdallah Bari, ilmuwan senior di International Center for Agricultural Research in the Dry Area (Icarda) di Syria.
Tim Ircada mengembangkan teknik yang menggunakan "learning algorithm" untuk mengambil data yang penting. Mereka membiarkan para petani yang ada tinggal dalam zona dengan karakteristik tertentu untuk memilih tanaman yang tahan pada hama, penyakit, kemarau, dan panas. Tanpa model, petani harus melakukan teknik tradisional dengan persilangan.
Menurut BBC (20/08/2014), model yang dikenal dengan nama Focused Identification of Germplasm Strategy (Figs) ini telah menunjukkan beberapa kesuksesan. Tim peneliti menyatakan teknik ini mengidentifikasi sumber resistensi untuk biotype mematikan dari hama Russian wheat aphid (Diuraphis noxia).
Saat ini, fokus utama penelitian adalah penanaman makanan dalam area kering. Bahan makanan tersebut antara lain chickpeas, kacang faba, durum wheat, dan barley. Tahun lalu, Dr. Bari dan koleganya mempublikasikan tulisan penelitian yang menyatakan keberhasilan sistem Figs dengan mengidentifikasi sample kacang faba yang tahan kemarau.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN