Di negara Asia seperti Korea, daging anjing biasanya digunakan sebagai penghangat tubuh. Di beberapa daerah di Indonesia, daging anjing dikonsumsi sebagai hidangan sehari-hari. Tapi apa benar setelah mengonsumsi daging anjing tubuh lebih terasa panas?
Sajian daging anjing sangat umum di beberapa daerah. Seperti Sumatra Utara, Manado dan Tana Toraja. Baik sebagai makanan sehari-hari atau makanan istimewa saat ada pesta.
Beberapa pendapat juga dilontarkan, mengenai rasa dari daging anjing dan juga sensasi rasa yang dihasilkan setelah mengonsumsinya. "Rasanya seperti daging dengan tekstur keras tapi lebih "peppery”, tutur Jeffry Yunus, pengamat kuliner yang pernah mencicipi daging RW di Tana Toraja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepertinya, rasa panas memang tidak dirasakan oleh mereka yang pernah mencoba sajian daging ini. "Mungkin rasa panasnya didapat dari penggunaan bumbu cabai yang kuat." jelas William Wongso, selaku pakar kuliner Indonesia.
Di setiap daerah memiliki cara pemasakan yang berbeda. Biasanya sajian RW dimasak dengan menggunakan bumbu-bumbu beraroma kuat sepetri cabai, jahe, andaliman (merica Batak) dan cabe katokkon (cabe khas Toraja).
Menanggapi hal ini, Lanita Somali M.Sc, MSed selaku Pengajar di Poltekkes Kemenkes Jakarta II mengatakan, " semua jenis daging hewani memang akan memberi rasa hangat karena mengandung protein dan lemak. Akan tetapi efek ini dihasilkan juga dari jumlah yang dikonsumsi."
"Mungkin orang mengatakan daging anjing lebih panas juga dapat disebabkan karena beberapa faktor yaitu tidak biasa mengonsumsi atau bumbu yang digunakan dalam proses pemasakan memang lebih tajam seperti cabai," jelasnya.
Jadi, dapat dikatakan memang rasa panas yang dihasilkan setelah konsumsi daging anjing bisa saja dikarenakan efek psikologis.
Akan tetapi secara prinsipnya, semua jenis daging hewani baik sapi, kambing ataupun anjing memang dapat berguna untuk menghangatkan tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak.
(lus/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN