Jenis senjata apinya pun berbeda-beda mulai dari pistol semi otomatis Glock hingga pistol six-shooter Rueger Blackhawk 357. Pada dinding restoran terdapat tulisan βdengan bangga berpegang pada senjata saya dan Alkitabβ. Tanda tersebut dipajang berdampingan dengan Declaration of Independence dan Bill of Rights.
Lauren Boebert, pemilik restoran, mengatakan dia memulai penggunaan pistol pada pelayan sejak etahun lalu. Sebulan setelah Shooters dibuka, Lauren mulai membawa pistol dipinggangnya. Setelah berbulan-bulan, pelayan berpikir bahwa hal itu menarik dan mereka mulai memakainya juga saat bekerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Shooters juga menawarkan kelas keselamatan penggunaan pistol pada pelanggan. Dalam kelas tersebut mereka mendapat makanan dan seminar 4 jam seharga $75 (Rp 894.000). Restoran ini juga tidak menyediakan minuman beralkohol.
Semua pelayan telah dibekali sertifikat keselamatan untuk membawa senjata. Menurut mereka, mereka tidak pernah berharap menggunakan senjatanya. Setiap senjata yang dibawa pelayan ditempatkan dalam sarung seperti polisi untuk mencegah orang mengambil pistol.
Robert Vedrenne, seorang pengunjung yang datang karena penasaran awalnya berpikir Shooters menarik perhatian dengan atribut senjata dan menjual makanan bercita rasa biasa. Namun, ternyata hal tersebut tak benar.
Menurutnya rasa makanannya enak dan iapun jadi pelanggan. Restoran Shooters awal tahun 2014 sempat memenangkan berbagai penghargaan favorite pembaca dari surat kabar karena makanan ala rumahannya seperti menu sarapan dan prime rib.
Rifle sendiri merupakan kota berburu sehingga biasa saja bila masyarakat membawa senjata api. Saat ia minum kopi di Starbucks pun bisa datang dengan memakai pistol Springfield XDS 45. Uniknya kota ini tetap memiliki tingkat kejahatan kekerasan yang rendah.
(odi/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN