Kini Kecintaan Masyarakat Prancis Akan Teh Mulai Bangkit Lagi

Kini Kecintaan Masyarakat Prancis Akan Teh Mulai Bangkit Lagi

- detikFood
Senin, 21 Apr 2014 17:48 WIB
Foto: BBC
Jakarta - Inggris memang menjadi negara terbesar pengonsumsi teh, tapi di Prancis saat ini ketertarikan akan teh semakin meningkat. Hal ini secara langsung juga mendorong banyak tea salon yang jumlahnya bahkan mengalahkan Inggris.

Didukung oleh iklan bernilai jutaan Euro, merek seperti Kusmi tea menjadi produk andalan toko duty-free bandara. Kini mereka membuka cabang keenam setelah berhasil dengan cabang di Champs-Elysees. Selain itu, merek Mariage Freres dan Dammann juga berkembang cepat mulai melakukan penjualan online dan membuka cabang di berbagai negara.

Dilansir oleh BBC (21/04/2014), tren menyeruput teh juga sedang melanda masyarakat kelas menengah dan tea salon spesialis sedang berkembang di Paris. Walau tren semakin meningkat, teh yang masuk melewati seleksi ketat dan kualitas sangat terjaga.

“Saat Anda pergi ke pelelangan di Tiongkok, Anda bisa membedakan orang Inggris karena mereka membeli masing- masing varian teh 1.000 ton. Saat kami (Perancis) membeli teh, kami membatasi hingga 10 peti! Masyarakat Inggris ingin harga lebih murah tapi kami ingin kualitas terbaik,” tutur Didier Jumeau-Lafond dari Dammann Teas yang bermarkas di Dreux, Paris barat.

Danmmann adalah salah satu perusahaan teh tertua yang meniciptakan Russian Blend dengan campuran teh hijau dan bunga jeruk. Tapi, baru- baru in Danmmann dibeli perusahaan kopi Italia, Illy dan eksport meningkat 30% per tahun.

Sementara itu di Prancis, mulai tercipta generasi konsumen yang sadar akan kesehatan dan fashion. Banyak restoran mulai belajar cara memadupadankan teh dengan keju dan cara menyajikan teh.

“Masyarakat Prancis selalu tertarik pada asal makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Kebahagiaan untuk Prancis ini adalah penemuan kembali, selama ratusan tahun kami tidak mengalami kontak dengan teh. Jadi tidak seperti Inggris kami tidak membentuk sebuah kebiasaan. Hal ini berarti kami bisa mempelajari teh sebagai produk yang murni dan baru,” tutur Francois-Xavier Delmas, pemilik jaringan toko teh Le Palais des Thes.

Walau terkenal sebagai negara pecinta wine dan kopi, ternyata teh pertama kali datang pada abad ke 17 lewat Belanda, beberapa tahun sebelum mulai diperkenalkan di London, Inggris. Aslinya, minuman ini dikonsumsi untuk kesehatan oleh Cardinal Mazarin, perdana mentri Louis XIV.

Pada saat revolusi the menjadi bagian hidup aristokrat, konsumsinya mulai menyebar ke kalangan borjuis. Lalu, abad ke 19 the dinikmati dengan set peralatan teh porselen dan mengunjungi 'salons de the' di Briarritz dan Riviaera.

(dni/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads