Frank Levy, seorang ekonom dan Professor Emeritus di MIT, Amerika memiliki pendapat mengenai hal tersebut.
"Ada perbedaan jelas antara memesan buku di Amazon dengan memesan sebuah burrito. Kita tahu cara melakukan yang pertama, namun untuk yang kedua akan terlalu rumit jika dilakukan dengan tidak hati-hati," sebut Levy yang telah mempelajari robot secara mendalam.
Meski beberapa makanan cepat saji dapat disiapkan dengan mesin, namun pilihan menggunakan robot terlalu sulit untuk saat ini. Menurut Levy, hubungan antar manusia sangat penting bagi pelanggan. Sangat sulit membayangkan orang merasa senang bila bersalaman dengan robot.
Sebaliknya, sebuah perusahaan bernama Solbern di New Jersey, Amerika mempekerjakan tiga insinyur untuk menciptakan mesin pembuat burrito. Setelah tiga tahun, insinyur tersebut akhirnya berhasil, tetapi mesin berharga Rp 1,3 miliar) - Rp 1,6 miliar dan harus mengikuti ukuran dan berat tertentu agar dapat berfungsi.
Menurut Jorge Espino, wakil direktur sales dan marketing Solbern, salah satu hal paling sulit adalah menduplikasi gerak tangan manusia yang dilakukan dengan jari-jarinya. Insinyur mempelajari video selama berjam-jam untuk tahu bagaimana mengisi dan melipat burrito.
Manusia dapat melakukan berbagai koreksi yang tak mungkin direplikasi pada mesin. Mesin buatan Solbern tersebut cocok untuk membuat burrito beku di supermarket, bukan burrito dengan beragam variasi.
Chris Arnold, direktur komunikasi Chipotle, sebuah restoran burrito terkenal, menyebutkan Chipotle tidak akan mengganti pekerjanya dengan robot. Baginya, membuat sebuah restoran hebat tidak hanya sekedar soal makanannya saja. Akan tetapi seluruh pengalaman pelanggan saat di restoran.
Manusia berperan utama dalam hal ini, mulai dari melayani pelanggan, memberi semangat, membangun hubungan dan membantu menyelesaikan masalah yang mungkin terjadi.
(odi/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN