Menurut website The Federation of Rodent Cheese Makers (F.R.C.M.) (24/11/2013) keju ini dibuat oleh Marcel Loussier, seorang pelaut Prancis. Saat ia terdampar di sebuah pulau di Samudra Pasifik, ia menemukan ide untuk memanfaatkan susu dari tikus-tikus yang terperangkap dalam kapal.
Lima belas tahun kemudian, tahun 1735, kapal pengawal Belanda tidak sengaja berlabuh di pulau yang didiamin Loussier. Ia sangat kagum saat menemukan seorang pelaut Prancis sedang menyantap keju yang mempunyai kualitas hampir sama dengan keju yang diproduksi di Eropa. Saat Marcel kembali ke Prancis, ia mengembangkan keju tikus dalam skala komersial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini yang membawa pertanyaan apakah benar keju tikus diproduksi dan bagaimana dengan nilai nutrisinya. Karena faktanya bahkan domba dan kambing tidak memproduksi susu sebanyak sapi. βSemakin bawah rantai makanan, semakin sedikit susu yang diproduksi. Anda butuh 674 tikus untuk menghasilkan 31 kg susu yang diproduksi sapi perhari,β tutur Nora Weiser dari American Cheese Society.
Dilansir dalam Modern Farmer (24/11/2013) terlepas dari itu, susu tikus mengandung nilai nutrisi yang tinggi. Susu tikus kaya protein (delapan persen) dan mengandung lemak empat kali lebih banyak dari susu sapi, sehingga, lebih bagus untuk membuat keju brie.
Selain itu, peternakan tikus untuk susu juga dinilai lebih ramah lingkungan. 674 tikus hanya memproduksi 0,03 persen methane dari peternakan sapi perah. Keju tikus bisa menjadi salah satu produk keju ramah lingkungan yang pernah ada. Sayangnya sampai saat ini, The Federation of Rodent Cheese Makers belum bisa dimintai keterangan.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN