Sebagai imigran dan populasi minoritas di Amerika, penduduk asal Meksiko dan Spanyol atau biasa disebut Hispanik telah mengubah selera makan penduduk Amerika.
βKetika Anda memikirkan pizza dan spaghetti, ini adalah hal yang sama. Masyarakat menganggap keduanya makanan Amerika, bukan etnis. Begitu juga yang terjadi dengan tortilla,β ujar Jim Kabbani selaku pimpinan Asosiasi Industri Tortilla.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut perusahaan riset konsumen, Packaged Facts, tahun lalu makanan dan minuman hispanik terjual sebanyak 8 miliar dollar. Angka ini diperkirakan menjadi 11 miliar dollar pada tahun 2017.
Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh pilihan menu orang Amerika. Kini mereka menyukai makanan yang lebih pedas, seperti tacos dan burritos buatan restoran Chipotle.
Bila ditelusuri, semua ini ternyata berawal dari komunitas hispanik generasi Y yang lahir awal tahun 1980. Walau lahir di Amerika, mereka masih memegang tradisi dengan mengonsumsi nasi putih dan makanan hispanik lainnya.
Kini kebiasaan mengonsumsi nasi putih sebagai lauk rupanya juga dilakukan orang Amerika. Secara umum, mereka mengonsumsi nasi rata-rata sebanyak 24 kali pada tahun 2013. Menurut NPDβs National Eating, jumlah ini bertambah dari 20 kali pada tahun 2003.
Pengaruh makanan hispanik ini rupanya mudah diadopsi karena orang Amerika bisa memasak sendiri dengan mudah. Hal ini terlihat dari data organisasi pemasaran konsumen, NPD, yang mengungkapkan hampir semua rumah tangga di Amerika memiliki wajan untuk menumis. Seperti diketahui, menumis merupakan metode umum yang dilakukan saat memasak menu hispanik.
βKetika berbicara mengenai kesehatan, masakan Meksiko juga lebih sehat karena menyediakan salsa dengan sayuran,β ujar Alexandra Aguirre Rodriguez selaku asisten profesor pemasaran di Florida International University.
Menurut perusahaan riset pasar yang berbasis di Chicago, IRI, penjualan salsa kini mengalahkan saus tomat di Amerika.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN