Kepribadian Terlihat dari Cara Seseorang Makan Popcorn

- detikFood Jumat, 12 Jul 2013 14:42 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Kepribadian seseorang turut mencerminkan perilakunya sehari-hari. Termasuk saat ia menikmati popcorn. Apakah ia orang yang tertutup, gemar bercerita, ataupun perfeksionis. Inilah yang disimpulkan para psychiatrist di Bristol, Inggris.

Popcorn jadi camilan favorit saat nonton film. Biasanya, satu wadah popcorn besar dinikmati bersama-sama. Ada yang senang mengambilnya satu persatu dan langsung dimasukkan ke dalam mulut. Ada juga mereka yang mengambil segenggam popcorn dari kemasannya. Ritmenyapun berbeda, ada yang mengunyahnya cepat, ada juga yang menghabiskannya perlahan-lahan.

Hal inipun membuat sebuah produsen popcorn Metcalfe Skinny Topcorn bekerjasama dengan psychiatrist di Inggris tertarik meneliti. Mereka menghubungkan antara bagaimana seseorang memakan popcorn dan bagaimana sifat aslinya. 2000 partisipan laki-laki dan perempuanpun dilibatkan.

Disimpulkan jika mereka yang bersifat introvert (pendiam dan tertutup) cenderung selektif memilih dan mengambil popcorn satu demi satu. Hal ini dilakukan dengan harapan bisa menikmati popcorn dengan rasa yang enak dan bentuknya sempurna. Sebaliknya, mereka yang gemar bersosialisasi dan extrovert biasanya gemar mengambil popcorn dalam jumlah banyak sekaligus.

Dua dari lima orang yang memiliki kepribadian extrovert mengaku jika mereka biasanya tak banyak pertimbangan saat makan popcorn. Mereka juga tak terlalu peduli dengan kandungan gula ataupun garam di dalamnya, dan senang mengunyah popcorn sesuka hati.

Sementara itu, partisipan yang masuk dalam kelompok perfeksionis memiliki kecenderungan yang sama besarnya. Setengah dari mereka suka mengambil popcorn satu persatu, sementara yang lain gemar mengambil dalam jumlah banyak sekaligus. Kelompok ini juga tak segan-segan berbagi satu karton popcornnya untuk dinikmati bersama-sama.

"Ada hubungan yang sangat terlihat antara pola makan dan kepribadian. Umumnya, mereka yang makan secara perlahan cenderung menikmati kesehariannya dan egois; sering menempatkan diri dan kepentingannya dibanding orang lain. Sementara mereka yang mengonsumsinya sekaligus banyak biasanya tak terlalu egois dan menempatkan kepentingan orang lain terlebih dulu," jelas Dr. Ben Sessa, salah satu Consultant Psychiatrist yang terlibat, seperti dimuat dalam Mail Online (11/07/2013).



(flo/odi)