Biasanya sebuah industri sapi potong mengandalkan proses tenderizing atau pengempukan. Proses ini dilakukan dengan cara menusuk-nusuk daging dengan jarum. Serat otot pada daging akan pecah dan tekstur daging jadi lebih empuk.
Sayangnya proses ini membuat daging berisiko lebih tinggi untuk terkena bakteri yang bisa menyebabkan keracunan makanan. Apalagi pusat pemotongan daging tidak melakukan proses pemanasan hingga suhu maksimal untuk menghancurkan bakteri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelabelan ini berguna untuk memberitahukan konsumen mengenai makanan yang dibeli. Jika konsumen tahu, daging sapi yang dibelinya menggunakan proses pengempukkan, mereka pun akan memasaknya sedikit lebih lama.
βAturan ini diusulkan untuk meningkatkan keamanan pangan dengan memberikan label yang jelas pada produk daging sapi, terutama yang melalui proses pengempukan. Agar kosumen tahu cara mengolahnya sehingga lebih aman untuk dikonsumsi.β terang Elisabeth Hagen selaku Wakil Menteri USDA, seperti dilansir NPR (11/6/2013).
Chef Bruce Mattel dari Culinary Institute of America, angkat bicara mengenai aturan baru ini. Menurutnya, kebijakan USDA mengenai label-label baru pada kemasan daging harus dilakukan guna membantu para konsumen.
βSeorang juru masak yang berpengalaman dapat menilai tingkat kematangan melalui tampilan makanan. Namun cara terbaik untuk menentukan kematangan adalah dengan menggunakan termometer. Cara ini juga bisa dilakukan oleh semua orang.β tambah Mattel.
Matel juga menyarankan jika ingin memasak daging di rumah sebaiknya dimasak dalam suhu minuman 160 derajat Fanrenheit atau sekitar 71,1 derahat Celcius. Pada suhu ini diyakini efektif membunuh kuman bakteri yang ada di dalam daging.
(dyh/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN