Jumlah Makanan Terbuang Berdampak Jumlah Pembuangan Air Dunia

Jumlah Makanan Terbuang Berdampak Jumlah Pembuangan Air Dunia

- detikFood
Senin, 10 Jun 2013 15:34 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Makanan terbuang bisa berdampak buruk pada lingkungan hingga mengancam persediaan pangan dunia. Sebuah laporan dari World Resources Institute menyatakan pembuangan makanan berlebihan juga berdampak pada tingkat pembuangan air.

Menurut World Resources Institute, lembaga penelitian lingkungan, dibalik 1,3 miliyar ton makanan yang terbuang setiap tahun diseluruh dunia, terdapat 45 triliun galon air yang juga terbuang. Angka tersebut mewakili 24 persen air yang digunakan untuk agrikultur. Sektor tersebut menggunakan 70 persen air bersih di seluruh dunia.

Bagaimanapun, jika menyingung tentang air, tidak semua produk makanan mengambil jumlah air yang sama. Lima ratus gram tepung gandum rata-rata mengandung 12 persen air dan 1.639 kalori, 500 gram apel rata-rata mengandung 81 persen air dan 766 kalori. Sementara buah dan sayuran adalah sumber air terbuang terbesar karena kandungan air di dalamnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan untuk daging, membutuhkan air banyak pada proses produksi melebihi bahan makanan lainnya. Karena hewan ternak mengkonsumsi rumput yang membutuhkan banyak air. Produksi daging membutuhkan 8 hingga 10 kali lipat air daripada produksi grain.

Namun, menurut WWAP masyarakat sebaiknya mengonsumsi daging yang diproduksi sendiri karena hanya mewakili 4 persen makanan terbuang dari berat dan 7 persen kalori.

Kemanakah perginya air yang terbuang tersebut? Craig Hansen selaku co-author laporan ini menyatakan hal tergantung pada pembuangan dan penyimpanan makanan terbuang. β€œContohnya, kelembapan dalam makanan bisa hilang setelah panenn atau selama penyimpanan terbuka dimana ait akan cenderung menguap,” tutur Craig kepala program WRI People & Ecosystems kepada NPR (10/05/2013).

Di negara berkembang, para petani bermasalah terhadap bahan makanan yang mudah busuk sebelum sampai ke tangan pelanggan. World Resources Institute menyarankan akses untuk penyimpanan kedap udara dan peti untuk buah dan sayur akan sangat membantu.

Sedangkan di negara maju, kebanyakan makanan terbuang terjadi selama rantai distribusi makanan, contohnya di restoran dan rumah. Hal ini memerlukan perencanaan distribusi ulang makanan yang tidak bisa dimakan dan disajikan, atau lebih baik memesan hidangan dalam porsi kecil.

(flo/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads