Gangguan Makan Berlebihan Lebih Cenderung Dialami Wanita

Gangguan Makan Berlebihan Lebih Cenderung Dialami Wanita

- detikFood
Kamis, 02 Mei 2013 14:42 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Ternyata gangguan makan khususnya konsumsi makanan secara berlebihan lebih banyak dialami oleh wanita. Hal ini disebabkan oleh wanita yang lebih terobsesi punya badan langsing dan juga perbedaan faktor biologis antara pria dan wanita.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Michigan State University, Amerika Serikat ini merupakan penelitian pertama yang melihat lebih jauh peran jenis kelamin dalam tingkat konsumsi makanan berlebihan. Penelitian ini melibatkan sekelompok tikus percobaan yang hasilnya bisa diimplikasi ke manusia.

Binge eating atau konsumsi makanan berlebihan adalah gejala utama dari kebanyakan gangguan makan seperti bulimia dan anoreksia. Wanita berisiko 4 hingga 10 kali lipat mengidap gangguan makanan daripada pria.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œKebanyakan teori tentang mengapa gangguan lebih umum dialami wanita karena peningkatan tekanan budaya dan psikologis terhadap ukuran tubuh wanita,” tutur Kelly Klump selaku kepala peneliti dan profesor psikologi dalam website resmi Michigan State University (02/05/2013).

Studi ini juga menunjukkan bahwa faktor biologis juga berpengaruh karena tikus percobaan tidak mempunyai tekanan untuk kurus seperti manusia.

Klump dan timnya menjalankan studi dengan memberi makan 30 tikus wanita dan 30 tikus pria selama dua minggu. Mereka mengganti makanan tikus dengan frosting vanilla secara berkala. Dalam hasil yang dipublikasikan di International Journal of Eating Disorders tikus betina mempunyai tingkat kecenderungan konsumsi frosting lebih tinggi enam kali lipat dibandingkan yang jantan.

Saat ini peneliti MSU menguji tikus-tikus tersebut untuk melihat apakah otak tikus wanita lebih sensitif dan responsif terhadap stimuli sistem reward otak seperti makanan tinggi lemak dan gula yang bisa memicu konsumsi makanan berlebihan.

β€œPeneliti ini menyimpulkan ada perbedaan biologis antara pria dan wanita yang perlu diteliti lebih jauh untuk mengerti faktor risiko dan mekanismenya,” tambah Klump.

(fit/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads