Kenaikan Harga Minuman Beralkohol Turunkan Angka Kematian

Kenaikan Harga Minuman Beralkohol Turunkan Angka Kematian

Fitria Rahmadianti - detikFood
Senin, 11 Feb 2013 15:00 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Alkohol tak hanya bisa menyebabkan kecanduan. Dalam jangka pendek, konsumsinya bisa menimbulkan keracunan dan dehidrasi. Lebih parah lagi, konsumsi dalam jangka panjang bisa menyebabkan perubahan metabolisme hati dan otak hingga kematian.

Menurut beberapa ilmuwan Kanada, menaikkan harga alkohol bisa menjadi solusi ampuh menekan angka kematian akibat alkohol. Mereka menyimpulkan hal ini setelah menganalisis angka kematian akibat minuman beralkohol di provinsi barat British Columbia, Kanada, selama periode 2002-2009.

Peneliti membaginya ke dalam tiga kategori, yakni kematian yang seluruhnya disebabkan oleh alkohol, akut, dan kronis. Mereka membandingkannya dengan peningkatan harga minimum minuman beralkohol yang diputuskan oleh pemerintah saat itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti mengatakan bahwa peningkatan harga minimum alkohol berkaitan dengan pengurangan langsung, substansial, dan signifikan dalam kematian yang disebabkan oleh alkohol. Kenaikan harga sebesar 10% diikuti dengan penurunan angka kematian sebesar 32%. Penurunan signifikan pada kematian akibat alkohol kronis dan total juga terdeteksi antara 2-3 tahun setelah harga minimum dinaikkan.

Namun, kini di British Columbia, sebagian penjualan alkohol tidak lagi melalui toko-toko milik pemerintah, melainkan dikelola oleh swasta. Ternyata, sebanyak 10% peningkatan jumlah toko minuman beralkohol swasta berkaitan dengan dua persen kenaikan angka kematian akibat alkohol.

"Studi (yang dimuat di jurnal Addiction) ini menambahkan bukti ilmiah bahwa peminum berat sekalipun mengurangi konsumsinya ketika harga minimum alkohol dinaikkan," ujar Tim Stockwell, ketua peneliti dari Centre for Addictions Research of British Columbia, University of Victoria, seperti dilansir Reuters (06/02/13).ok

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa 10% kenaikan harga minimum alkohol membuat orang-orang meminum alkohol 3,4% lebih sedikit. Selain itu, studi yang dimuat di American Journal of Public Health pada akhir September 2012 juga menunjukkan bahwa kenaikan harga alkohol dapat menekan konsumsinya.

Di Saskatchewan, Kanada, harga minimum alkohol naik 10% pada 2002-2009. Di periode ini, konsumsi bir turun 10,06%, spirit seperti vodka dan whiskey turun 5,87%, sementara wine turun 4,58%. Secara keseluruhan, penurunannya sebesar 8.43%.

"(Kenaikan) harga minimum merupakan strategi menjanjikan untuk mengurangi beban kesehatan masyarakat terkait konsumsi alkohol berbahaya," tulis peneliti.

Konsumsi bir tinggi alkohol juga turun banyak dibanding minuman berkadar alkohol rendah, yakni 22% banding 8,17%. Diduga, hal ini disebabkan karena minuman yang berkadar alkohol lebih tinggi biasanya memiliki harga yang lebih mahal. Berarti, efek lain dari kenaikan harga adalah mengubah preferensi ke jenis minuman yang berkadar alkohol lebih rendah.

(fit/odi)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads