Nisham Mohideen, direktur penjualan Al Islami Foods dari UEA, mengatakan standar halal yang sama bisa memperingkas kerja pemasok makanan. Sebab mereka hanya perlu satu sertifikat halal. Inipun bisa membuat konsumen yakin bahwa makanan yang dibeli sudah sepenuhnya halal.
"Keuntungan besarnya adalah kemudahan dalam menjalankan bisnis. Perusahaan di bidang bisnis makanan akan paham bahwa mereka harus mengikuti satu standar. Bagi konsumen, ini berarti melindungi kepentingan mereka dan memastikan semua memenuhi kaidah Syariah," ujar Mohideen dalam pameran OIC Halal Middle East, seperti dilansir dari Gulf News (08/12).
Sementara menurut Mohanad Gassem, kepala departemen pembelian di Sharjah Cooperative Society, keberadaan standar halal tunggal akan mempermudah ritel memilih produk halal untuk dijualnya.
Tidak adanya standar halal terpadu disebut telah meningkatkan biaya produksi makanan dan minuman perusahaan. Karena mereka harus mengikuti standar aturan negara yang berbeda-beda.
Di dunia ada sekitar 500-3000 badan sertifikasi, 80 persen diantaranya berada di negara non-Muslim. Hal ini disampaikan Sebnem Sen dari Dubai Multi Commodities Centre.
DinarStandard, firma riset khusus pasar Muslim, menyebut pasar untuk memproses, memproduksi dan mendistribusikan makanan sekaligus minuman halal diharapkan akan tumbuh jadi industri bernilai $1,6 triliun pada tahun 2018. Sedangkan tahun 2012 nilainya $1 triliun.
Tumbuhnya populasi musim membuat pasar halal jadi menguntungkan. Populasi ini diharapkan tumbuh dari 1,8 miliar saat ini menjadi 2,2 miliar tahun 2030, menurut sebuah pernyataan dari Expo Centre Sharjah.
Adapun standar halal sempat menjadi pembicaraan tahun lalu ketika cokelat Cadbury menarik dua produk di Malaysia karena ditemukan DNA babi. Otoritas halal berwenang di beberapa negara, termasuk Saudi Arabia dan Indonesia, melakukan pengecekan pada cokelat Cadbury tersebut untuk memastikan produk memenuhi aturan Islam.
(lus/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN