Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia berpotensi menjadi pusat halal dunia. Selain menjadi produsen produk halal terbesar di dunia, Indonesia juga diharapkan bisa menjadi rujukan bagi negara-negara lain di bidang halal.
Untuk meningkatkan kesadaran muslim Indonesia akan produk halal, Indonesia Halal Business & Food (IHBF) Expo digelar untuk keempat kalinya. Tahun ini, acara tersebut berlangsung selama 19-21 Desember 2014 di Assembly Hall Jakarta Convention Center.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dra. Euis Saedah, MSc., Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah yang mewakili Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, ada beberapa kendala yang dihadapi Indonesia untuk menuju pusat halal dunia.
Hambatan tersebut di antaranya keterbatasan auditor halal, minimnya laboratorium uji kehalalan, serta tingginya biaya sertifikasi halal. "Fungsi pengawasan pemerintah juga lemah karena kurangnya sumber daya manusia dan sarana," ujar Euis.
Bagaimanapun juga, ia memuji lahirnya UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. "Kami juga membantu 500 UKM (usaha kecil dan menengah) per tahun sampai tahap pengemasan dan mendapat sertifikat halal. Dananya dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)," jelas Euis.
Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, Euis berharap Indonesia jadi tuan rumah di negara sendiri. "Negara-negara muslim maupun nonmuslim sudah menyadari potensi pasar halal di Indonesia. Karena itu, produk lokal harus bisa bersaing dengan produk impor," Euis menekankan.
Halalpun bukan hanya soal makanan, tapi juga semua hal yang kita gunakan. "Sepatu yang Anda pakai, misalnya, kulitnya terbuat dari apa? Kalau kita pakai setelah wudu kemudian kita salat, apakah salat kita sah?" kata Rifda Ammarina sebagai Ketua Panitia Penyelenggara IHBF 2014.
Karena itu, di IHBF tahun ini digelar peragaan busana muslim dan talkshow 'Tren Fashion Halal'. Untuk IHBF tahun depanpun, Rifda berencana menggelar fashion week busana muslim.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN