Menurut Winai Dahlan, direktur pendiri Pusat Ilmu Halal (HSC) di Chulalongkorn University Thailand, tingginya pertumbuhan sektor pangan halal ternyata membawa risiko. Konsumen jadi terlalu percaya terhadap produk berlabel halal dan tak membaca daftar bahan bakunya secara saksama.
"Sertifikasinya kurang ketat. Konsumen semestinya menelaah merek dan bahan-bahan produk karena produk berlabel halal terkadang berubah menjadi haram dan tidak sah," kata Dahlan kepada media Turki Sunday's Zaman. Di Thailand yang bukan negara muslim, memang masih banyak produsen yang belum sadar akan pentingnya sertifikat halal .
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dahlan, produksi pangan halal ilegal meningkat karena pasar halal global melebihi $1 triliun. Angka ini diperkirakan akan mencapai $2 triliun pada 2030 karena nonmuslim semakin menunjukkan ketertarikan terhadap makanan halal. Persainganpun meningkat.
Yang menarik, eksportir utama produk pangan halal adalah negara-negara nonmuslim seperti Brazil, Amerika Serikat, China, dan India. Turki termasuk salah satu negara baru yang mencoba memiliki saham besar di sektor ini.
Namun, Dahlan mengatakan bahwa tak mudah memproduksi makanan halal karena memerlukan investasi infrastruktur yang serius, keahlian, serta tenaga kerja yang teliti.
HSC yang berdiri sejak 18 tahun lalu memiliki 90% tenaga kerja muslim dan menjadi institusi pertama yang didirikan untuk studi dan sertifikasi makanan halal. Lembaga ini juga memiliki dewan penasihat yang terdiri dari cendekiawan muslim terhormat.
HSC bekerja sama dengan sektor swasta di Thailand untuk meningkatkan sharenya dalam pasar makanan halal. Layanannya meliputi produksi halal, pengawasan, serta inspeksi perusahaan. HSC juga memberikan sertifikasi kepada orang-orang yang ingin memelajari sektor pangan halal.
Dahlan menggarisbawahi, analisis yang dilakukan HSC bisa membuktikan apakah sepotong daging berasal dari hewan yang disembelih secara halal atau tidak. Ia menekankan bahwa seafood yang umumnya halal bisa menjadi haram saat pengolahan karena diberi bahan tambahan. Uji HSCpun membuktikan bahwa beberapa produk seafood kalengan mengandung babi.
Kandungan babi yang signifikan juga ditemukan dalam kosmetik. Selain itu, produk halal mentah bisa menjadi haram ketika dikemas dan didistribusikan. Pasalnya, produk dapat diawetkan dengan gelatin yang bisa jadi terbuat dari babi.
"Salah satu studi kami yang paling mendalam adalah mengode barang-barang yang mengandung babi lalu menciptakan aplikasi iPhone dengan daftar yang bisa dengan mudah diakses konsumen," jelas Dahlan.
Pemerintah Thailand berencana masuk ke pasar Timur Tengah, termasuk Turki, dalam jangka menengah. Sektor pangan halal Thailand sendiri tumbuh 20% setiap tahun.
Menurut juru bicara pemerintah Thailand, sektor pangan halal dulu diciptakan untuk warga muslim di negara tersebut. Namun, meningkatnya permintaan membuatnya menjadi sektor perdagangan internasional.
"Kami telah melalui serangkaian panjang pendidikan, pelatihan, dan investasi di produksi halal. Kami juga memiliki infrastruktur yang kuat serta beragam produk.
"Kami melihat bahwa kesadaran akan produk pangan halal di Turki meningkat. Orang-orang Turki yang menghadiri pelatihan HSC juga banyak. Kami harap, produk halal pangan akan segera termasuk dalam perdagangan kami dengan Turki," ujar si juru bicara.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN