Jakarta - Indonesia Pernah dijajah oleh Belanda, yang berpengaruh pada kuliner Nusantara. Ada beberapa hidangan yang menjadi bukti akulturasi kedua budaya tersebut.
Galeri Foto
Ada dari Zaman Belanda, 9 Makanan Hasil Akulturasi Ini Masih Digemari!
Semur berasal dari kata Belanda 'smoor' atau 'smoren' yang berarti masakan rebus. Di Indonesia, semur berkembang dengan tambahan kecap manis dan rempah seperti pala serta cengkeh. Foto: Istimewa
Siapa sangka, perkedel merupakan adaptasi dari makanan Belanda 'frikadeller'. Versi Indonesia lebih sering memakai kentang tumbuk dibanding daging cincang. Foto: Getty Images/iStockphoto/Edy Gunawan
Lapis legit terinspirasi dari kue Belanda 'spekkoek'. Di Indonesia, kue ini diperkaya rempah-rempah Nusantara seperti kayu manis dan kapulaga. Foto: Istimewa
Kroket masuk ke Indonesia lewat pengaruh kuliner Belanda dan kemudian dimodifikasi memakai kentang serta isian ragout lokal. Foto: Istimewa
Kuliner khas Solo yang mendapat pengaruh hidangan Eropa seperti biefstuk dan salad Belanda adalah Selat Solo. Biasanya terdiri dari daging, sayuran rebus, dan kuah manis gurih. Foto: Istimewa
Bistik yang disajikan di Jawa merupakan adaptasi lokal dari steak Belanda atau Eropa. Daging disajikan dengan kuah manis khas Jawa dan pelengkap sayuran. Foto: Istimewa
Kue khas Manado bernama Klappertart dipengaruhi gaya dessert Belanda. Nama 'klapper' berarti kelapa dalam bahasa Belanda. Foto: Istimewa
Kastengel yang populer disajikan saat lebaran ternyata juga dipengaruhi budaya Belanda. Namanya berasal dari bahasa Belanda, kaasstengels atau batang keju. Foto: Istimewa
Nastar yang jadi kue wajib saat Idul Fitri di Indonesia, ternyata berasal dari istilah Belanda 'ananas tart'. Versi lokal nanas biasanya memakai selai nanas. Foto: Istimewa

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN