Qute Dim Sum: Itik Bertopi Berbonus Anak Ayam

Qute Dim Sum: Itik Bertopi Berbonus Anak Ayam

- detikFood
Senin, 12 Mar 2007 11:34 WIB
Jakarta - 'Aduh si Ugly Duckling ini ngegemesin ya,' 'Kok kepala burung ini nggak mau nempel...'. Itulah komentar peserta Cooking With Style yang sibuk membuat dim sum mungil menggemaskan. Usai dibikin tentu saja dimatangkan dan dibawa pulang. Senang, puas, apalagi yang juga berhasil membawa hadiah voucher makan!Grup kedua Cooking With Style bertema 'Qute Dim Sum' ini tak kalah rajin dengan grup pertama yang sempat terhadang banjir. Menjelang pukul 10.00, hampir semua peserta sudah berkumpul di Pearl Chinese Restaurant yang berlokasi di lantai 1 Hotel JW Marriott Jakarta. Saat Chef Wong Kok Shyong, dim sum chef Pearl Chinese Restaurant meletakkan contoh-contoh qute dim sum di meja, tak ayal pesertapun berebut mendekati, memotret dan menatap dengan penuh rasa ingin tahu. 'Aduh...lucu banget ya..', demikian komentar mereka.Rasa ingin tahu plus antusias peserta terobati dengan peragaan pembuatan 'Sparrow Fly'. Si burung gereja dibuat dari adonan udang. Ekor udang menjadi ekor burung, dan kepala burungnya berupa telur burung puyuh rebus.'Yang paling penting, adonan udang harus kering, tidak berair supaya mudah dibentuk dan kenyal rasanya,' demikian pesan chef Wong. Rahasia membuat adonan udang yang garingpun dibeberkan habis-habisan. 'Untuk membentuk bola-bola, gunakan pangkal ibu jari dan telunjuk,' tutur sang chef sambil dengan cekatan mencetak bola-bola. 'Wah, punyaku kok adonannya lengket semua chef,' teriak seorang peserta. O, rupanya ia kelupaan membasahi tangan dengan sedikit air. Meskipun terlihat gampang menempelkan telur puyuh rebus dengan adonan ternyata tidak semua peserta bisa mulus melakukan. 'Ini telur puyuh kok nggak mau nempel ya, jatuh terus,' ujar seorang peserta. Akhirnya, berkat bimbingan sang Chef, 'Sparrow Fly' pun bisa selesai. 'Ingat menempel wijen hitam untuk matanya kalau burung sudah matang, kalau ditempel sekarang waktu matang matanya berlelehan hitam, seperti menangis..,' tutur chef Wong diikuti derai tawa peserta.'Honey Bee' pun segera dibuat sambil menunggu si burung dikukus. 'Kasih tekan sikit-sikit supaya nori lekat ya..,' komentar chef dalam bahasa Malaysia karena ia tak mahir berbahasa Indonesia. Meskipun contoh yang diberikan si lebah kecil imut-imut, tetapi hasil karya pesertapun berbeda-beda. 'Lebahku gendut-gendut kayak aku ya..,' demiikian komentar mbak Ine dan Emma yang secara kebetulan membuat lebah gendut dan besar. 'Almond harus agak ke atas menempelnya supaya terlihat seperti sayap,' chef Wong memngingatkan peserta. 'Lha punyaku kok nggak kayak lebah sayapnya. Ini kok kayak pesawat terbang ya,' komentar seorang peserta sambil asyik mendandani sang lebah. Supaya tak tertukar, lebah-lebah hasil karya peserta pun dimatangkan terpisah. Membuat si Pangeran Kodok alias 'Prince Charming' ternyata tidak rumit. 'Adonan harus bentuk segi tiga,' ujar chef Wong sambil berulangkali memperagakan membentuknya. 'Kok jamurnya bisa bundar-bundar kecil ya chef,' tanya seorang peserta sambil memeriksa jamur hioko yang sudah dicetak bundar oleh chef. Si kodok berdasi pun lengkap dengan mata dalam sekejap rapi tertata dalam piring siap dikukus. Pembuatan si Itik Buruk Rupa alias 'Ugly Duckling' sangat menarik karena dim sum ini tergolong dim sum manis. Adonan talaspun dipipihkan dan dengan cekatan diisi adonan lotus manis. 'Di bagian tengah agak ditekan supaya bisa jadi kepala bebek,' chef Wong memperagakan pembuatan badan dan kepala bebek. Irisan almond menjadi pelengkap paruh plus ekornya. 'Tahap yang paling penting adalah menggoreng. Tidak boleh terlalu besar apinya, tidak boleh terlalu panas juga tak boleh kurang panas,' demikian chef Wong mengingatkan. Setelah mengecek bolak-balik, akhirnya sang chef memperagakan proses penggorengan. Karena minyak kurang banyak, terpaksa sang chef menaruh bebek dalam posisi 'rebahan'. Begitu terkena suhu minyak yang panas, adonan talaspun jadi 'keriting' berwarna abu-abu, persis seperti si Itik Buruk Rupa. 'Kalau tak tenggelam, kepala bebek tak bisa mekar,' demikian pesan chef. Seperti yang terjadi pada kelompok pertama. Bebekpun jadi bertopi, persis helm! Karena ditaruh 'rebahan' saat diangkat si bebekpun 'peang' atau 'peyot' kepalanya. 'Kalau minyaknya banyak, bebek ditaruh tegak pasti akan cantik,' demikian komentar sang chef. Sebagai penutup, chef Wong sudah menyiapkan satu resep bonus. Ini gara-gara kelompok pertama cooking class ini, meminta chef memberi bonus. 'Yang persis seperti ada di pengumuman detikfood', demikian bujuk mereka. Saat ditanya namanya sang chef justru kelabakan. 'Apa ya, burung saja namanya', jawab sang chef. Setelah mencatat bahan-bahannya, 'burung' yang ternyata 'anak ayam' pun dibuat dari adonan manis (mirip adonan pie) dengan isi adonan lotus manis. Ujungnya sedikit diruncingkan sehingga seperti paruh anak ayam yang sedang 'teriak'. Untuk sayap dan ekor, adonan dijepit dengan penjepit adonan. Anak-anak ayam yang gendut, tertunduk malu dan yang mungil pun akhirnya siap dipanggang. Sang chef pun harus dapat tugas ekstra memoles dengan kuning telur sebelum dipanggang.Sebelum ditutup dengan makan siang, Mbak Ina Ilmiaviatta, Marketing Communications Manager, JW Marriott Jakarta membagikan 4 (empat) buah voucher makan di Sailendra Restaurant masing-masing untuk 2 orang. Yang beruntung membawa pulang voucher adalah Ibu Emma, Yanti Abik, Suryastri Boni dan Lia Indrowati. Saat pulangpun peserta masih sibuk mengemasi kotak-kotak berisi hasil karya yang lucu plus cicip-cicip yang tak habis dimakan. Nah, sampai ketemu lagi ya! (dev/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads