Membuat Lapis Surabaya sambil Nyemil

Membuat Lapis Surabaya sambil Nyemil

- detikFood
Senin, 06 Mar 2006 13:22 WIB
Jakarta - Membuat kue dengan campuran cake emulsifier sih, udah biasa. Tapi bila membuat kue dengan bahan-bahan alami, tanpa sedikit pun bahan kimia itu baru oke namanya. Udah gitu kuenya sangat lembut, cantik, dan mmmhhh...! Sejuta deh rasanya! Simak selengkapnya di sini.Sabtu lalu, detikfood dan Arumanis Indonesian Arts kembali mengundang sang Master Bakery -Hadi Tuwendi- untuk kembali membagikan ilmunya. Kali ini giliran resep Lapis Surabaya yang dipelajari. Salah satu kue tradisional asli Indonesia ini memang sangat terkenal hingga kini. Tapi CWS kali ini tidak cuma belajar membuat lapis Surabaya, ada juga Koning'skroon, Mandarin Cake, dan Lapis Pandan Srikaya yang masih famili dari Lapis Surabaya. Sesi pertama dimulai dengan pengenalan bahan, ukuran, dan sedikit teori. Setelah selesai, semua peserta "digiring" masuk dapur untuk langsung praktik. Semua bahan telah disiapkan, kini giliran peserta mengolah bahan-bahan tersebut menjadi sebuah adonan kue yang lezat. Resep pertama yang dipraktikkan adalah resep Lapis Surabaya. "Ingat ibu-ibu, yang paling penting di sini adalah tekniknya!", jelas Pak Hadi. Peserta yang tadi sempat tertegun mendengar penjelasan bahwa kue yang dipraktikkan kali ini sama sekali tanpa emulsifier, tampak bersemangat mengikuti instruksi pak Hadi dalam membuat adonan. Melihat pak Hadi yang piawai mengaduk dan mencampur bahan membuat semua ingin mencoba, namun ketika satu per satu mendapat giliran ternyata masih banyak salahnya. "Duh, kalo ngeliatin enak ya. Eh giliran nyobain susah ya!", ungkap salah seorang peserta. Setelah selesai dibuat, adonan dibagi menjadi tiga bagian yang sama. Kemudian, satu bagiannya diberi warna cokelat dan di oven. Selesai dengan resep pertama acara dilanjutkan dengan resep kedua, Koning'skroon. Dengan bekal pengalaman resep sebelumnya, peserta menyelesaikan resep kedua ini lebih cepat. Tak terasa jam hampir menunjuk angka satu, perut pun sudah mulai minta diisi. Tapi sebagian peserta menolak untuk istirahat makan siang. Akhirnya, diputuskan untuk membuat resep ketiga, Mandarin cake. Menurut pak Hadi cake variasi dari Lapis Surabaya ini adalah hasil kreasi sebuah toko roti di kota Solo. Meski memiliki bentuk yang mirip Lapis Surabaya, namun tekstur kue ini sangat khas karena proses pembuatannya pun berbeda. Selesai dengan Mandarin Cake, akhirnya peserta setuju untuk makan siang. Sambil menyantap hidangan makan siang, kami pun bercengkrama sambil bercanda. Akhirnya sampai juga pada resep keempat yang merupakan resep terakhir. Resep ini sangat spesial karena bahan-bahan yang digunakan sangat Indonesia. Lapis Pandan. Daun pandan wangi ini merupakan tanaman khas Indonesia dan sulit ditemukan di tempat lain, itulah yang menjadi keunggulan kue ini. Di samping itu, apabila resep lainnya menggunakan selai untuk merekatkan kue. Resep kali ini justru menggunakan vla alias srikaya yang juga produk asli Indonesia. Bila peserta sudah mulai piawai membuat adonan, kali ini mereka harus belajar membuat srikaya. "Membuat srikaya asli medan, diperlukan waktu kurang lebih delapan jam. Dan selama delapan jam itu, adonan harus selalu diaduk. Tapi, saya punya kuncinya," jelas pak Hadi sambil tersenyum. "Wah gimana pak caranya?" sahut peserta penasaran. Pak Hadi punmengeluarkan jurus rahasianya. "Ciaaaaat!"Sambil menunggu roti pandan dan srikaya matang, peserta belajar mengoles selai. Agar kue tampak cantik, ada tips dan trik khusus dari pak hadi dalam mengolesi kue dengan selai. Tiap peserta mendapat giliran untuk mengoles kue di bawah bimbingan pak Hadi. Setelah memoles kue pun di potong, dibuang pinggirannya dan dibagi rata. Sementara pak Rio (asisten pak Hadi) memotong kue, peserta sibuk mengambil pinggiran kue untuk dicemil. Tidak seperti Lapis Surabaya yang ada di pasaran, Lapis Surabaya buatan Pak Hadi ini jauh lebih enak. Gurih, legit, wangi, lembut, dan ueenakk begitu komentar salah seorang peserta ketika mencicipi lapis Suarabaya yang dipraktikkan bersama. Mendengar komentar itu pak Hadi cuma tersenyum sambil berkomentar, "Iya kan, ini semua karena kue kita tanpa bahan pengawet, bahan-bahan yang digunakan benar-benar asli dari alam." Peserta menyimak penjelasan pak Hadi sambil menyemil, potongan-potongan pinggiran kue. "Aduh..enak banget deh Pak rasanya. Gak bisa berhenti deh! Euenakkk banget, lagi pula kan aman tanpa bahan pengawet!", ungkap peserta yang disambut tawa meriah peserta lainnya. Begitulah CWS detikfood yang selalu seru dan fun abis! Makanya, rugi deh kalo ketinggalan! Daftarkan diri Anda untuk mengikuti CWS detikfood lainnya segera! (lil/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads