'Non Loin Steak' Hmm... Yummy!

'Non Loin Steak' Hmm... Yummy!

- detikFood
Minggu, 11 Apr 2010 16:08 WIB
Jakarta - Rahasia steak enak ternyata tak harus dibuat dari daging sapi paling mahal. Saus pun tak perlu berlimpah. Lalu apa ya yang penting diperhatikan? Semua rahasia yang diungkap oleh Chef Vindex dan disimak serius oleh peserta. Tentu saja sambil bergoyang lidah mencicipi steak hangat mengepul! Nyam... nyam!

Seirus dan asyik. Itulah suasana cooking class yang bertema 'Steak in Style' yang dibawakan oleh Executive Chef Vindex Tengker. Acara yang berlangsung di The Steak House Hotel Four Seasons Jakarta ini memang diminati oleh mereka yang ingin belajar tuntas soal steak.

Soal daging sapi yang jadi bahan utama steak dibahas tuntas oleh chef Vindex sebagai pembuka. Daging US Prime, Wagyu, Kobe, Matsukaya, hingga daging sapi lokal dijelaskan secara detil. "Daging sapi Kobe memang berasal dari sapi yang diternakkan di Kobe dan diperlakukan khusus. Dari makanan hingga diberi minum sake hingga dipijat. Karena itu dagingnya empuk dengan lemak yang tersebar merata," demikian jelas chef Vindex.

Pertanyaan pun bertubi-tubi diajukan oleh peserta. Soal jenis potongan hingga cara penyimpanan. Peta daging yang dipasang di depan pun menjadi bahan acuan untuk memahami soal daging sapi. "Menurut saya kualitas daging lokal memang tidak cocok untuk beef steak. Cocoknya buat rendang saja," komentar chef Vindex pun disambut tawa berderai dari peserta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khusus soal daging sapi, sang chef memberikan alternatif baru soal bagian daging yang diolah jadi steak. "Kalau biasanya steak dibuat dari bagian sirloin atau tenderloin, maka yang kali ini adalah bagian 'non loin'," tutur sang chef sambil menunjukkan beberapa contoh daging.

Ternyata daging sapi dari bagian 'non loin' juga empuk. "Syaratnya hanya satu, pakai daging sapi dari kualitas dan grade bagus," demikian wanti-wanti sang chef. Penjelasannya dibuktikan dengan pembuatan Classic Steak Frites yang memakai Flat Iron Steak. "Yang dipakai adalah daging sapi bagian shoulder atau chuck karena bagian ini tidak keras ototnya. Ada bagian yang empuk di tengahnya," jelas sang chef.

Bagian 'non loin steak' lain yang dipakai adalah Eye of Rump Steak, bagian rump steak yang berbentuk seperti 'mata' dan empuk Usai diskusi soal daging, chefpun membeberkan rahasia membumbui steak. Bumbu steak yang sederhana seperti minyak, merica dan garam ternyata tak bisa begitu saja dioleskan pada daging.

"Kalau ingin aromanya enak, gunakan saja scented olive oil, minyak olive yang sudah diberi aroma," demikian jelas chef sambil menunjukkan berapa botol berisi minyak olive dengan aroma bawang, thyme, basil, cabai, dan lain-lain. "Yang paling penting, jangan menambahkan garam jika daging bebrumbu akan disimpan. Karena garam membuat daging jadi kering dan alot," demikian pesan sang chef.

Urusan memanggang steak ternyata juga tak mudah. Soal panggangan, waktu memangang hingga mengetahui tingkat kematangan daging dibeberkan lengkap. Pangkal jempolpun dipakai sang chef buat memberi penjelasan soal tingkat 'doneness'. "Makin ke belakang jika dipencet akan terasa keras seperti daging sapi yang welldone," peragaan chefpun diikuti oleh peserta dengan memncet-mencer pangkal jempol!

Pembuatan saus pelengkap steak pun tak kalah seru. Sang chef masih terus membagikan tips dan berbagai trik untuk membuat saus steak yang enak. β€˜Kalau makan steak dan diberi saus berlimpah berarti daging sapinya kurang bagus kualitasnya. Kalau kualitasnya bagus, dengan sedikit saus steak sudah terasa enak,’ jelas sang chef.

Sepanjang cooking class ini para peserta super sibuk, mencatat, bertanya, dan tentu saja mencium aroma bumbu plus cicip-cicip. Berbagai potongan steak dengan tingkat kematangan berbedapun disajikan untuk dicicip. Urusan merebus sayuran hingga French fries yang renyahpun tak luput dari bahasan.

Peragaan resep Chicken Drumstick dan Cajun Style Geouper Steak dan Cheese Chicken Steak juga tak kalah seru dan menarik. Racikan bumbu Cajun, jenis ikan segar yangcocok buat steak hingga membumbui ayam pun dibahas lengkap. Tak heran jika peserta nyaris tanpa istirahat, menyimak serius semua penjelasan sang chef.

Akhirnya lewat pukul 13.00 cooking class 'terpaksa' diakhiri karena sajian makan siang lengkap sudah siap. Sambil menyantap makan siang masih saja beberapa peserta berdiskusi dengan sang chef yang dengan sabar melayani. Sebagai pemenang voucher makan cooking class kali ini adalah pak Boeli (yang jauh-jauh datang dari Bandung), Puspa dan Hikmah Lukman. Selamat ya dan sampai ketemu di cooking class berikutnya!

(dev/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads