Nasi Ulam Dagangan Si Doel

- detikFood Senin, 07 Mei 2012 09:53 WIB
Jakarta - Nasi ulam adalah "hewan" yang nyaris tidak dikenal di dalam kuliner Betawi. Popularitas nasi uduk yang sedemikian menjulang membuat nasi ulam terbenam dan - bahkan - terancam punah. Padahal, bila Anda pernah membaca novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Datoek Madjoindo, pasti ingat bahwa di masa kecilnya Si Doel berjualan nasi ulam di sekitar Jagamonyet (tidak jauh dari Harmoni sekarang).

Saat ini, penjaja nasi ulam di Jakarta dapat dihitung dengan jari tangan. Yang memenuhi syarat untuk dibanggakan hanya tiga penjual. Satu lagi yang masih sangat eksis dapat dijumpai di Tangerang.

Nasi ulam dan nasi uduk sama-sama merupakan sajian nasi yang gurih. Bedanya, nasi uduk dimasak dengan santan kelapa, sedangkan nasi ulam adalah nasi putih yang dibaur dengan srundeng kelapa. Secara umum, nasi ulam disajikan dengan dua cara: kering dan basah. Yang basah memakai guyuran kuah semur.

Masakan yang diakui sebagai kuliner tradisional Betawi ini sesungguhnya pada awalnya dijajakan di kalangan Peranakan Indonesia-Tionghoa. Dulu, para pedagang nasi ulam kebanyakan mendorong gerobaknya dari Tangerang menuju ke sekitar Glodok. Misjaya, salah seorang penjual nasi ulam di depan klenteng Toasebio di Jl. Kemenangan III, misalnya, adalah penerus dari tauke-nya di Tangerang dulu.

Misjaya kini dianggap top of the line dalam soal nasi ulam. Ia mewakili gagrak nasi ulam basah. Nasi putih dengan lauk wajib mihun goreng, irisan dadar, taburan srundeng dan rencekan kacang tanah, diguyur kuah semur tahu-kentang. Topping: segenggam daun kemangi dan krupuk tapioka. Lauknya bisa dipilih: dendeng manis, cumi asin-kering, perkedel, bakwan jagung, telur matasapi, dan lain-lain.

Para penjual nasi ulam dengan gerobak dorong yang kadang-kadang masih dapat dijumpai di sekitar Petaksembilan, Glodok, juga menyajikan nasi ulam seperti Misjaya. Diguyur kuah semur, dan lengkap dengan berbagai lauk pilihan.

Gagrak nasi ulam kering diwakili oleh sebuah warung kecil tanpa nama milik kakek-nenek keturunan Tionghoa di Jl. Mangga Besar I, dan warung besar Haji Yoyo yang tersembunyi di Jl. Haji Dogol, Karet Kuningan. Di kedua tempat ini, nasi putihnya dicampur dengan bumbu-bumbunya, yaitu srundeng. Remukan kacang tanah ditaburkan di atasnya. Di Haji Yoyo, bahkan ditambah lagi dengan taburan kacang hijau mentah yang sudah direndam semalaman.

Bila sempat singgah ke warung Haji Yoyo - yang nasi uduknya juga berkelas juara - jangan lewatkan lauk empalnya yang istimewa. Empalnya berbumbu gurih, dari daging sapi yang sangat empuk, dibentuk menjadi bola dan diikat dengan usus ayam, kemudian digoreng. Hmm, mak nyuss! Lauk kambing gorengnya (sebetulnya lebih mirip krengsengan kambing) juga sangat dipujikan.

Di Tangerang yang dianggap the cradle of nasi ulam, nasi ulam tidak pernah disajikan dengan kuah semur - kecuali diminta. Selain lauk wajib seperti yang telah disebut di atas, lauk sampingan yang paling populer di Tangerang adalah jengkol goreng yang dikeprek (dipenyet), lalu ditumis dengan kecap manis.

Di Warung Encim Sukaria - dikalangan pelanggan setianya lebih dikenal dengan sebutan Encim Galak atau Encim Bawel - menurut saya, nasi ulamnya berkualitas paling tinggi. Cobalah mencicipi hanya nasi ulamnya, tanpa lauk. Gurih dan aromatik sangat. Ternyata, Encim Sukaria tidak hanya memakai srundeng dan remukan kacang tanah, tetapi juga ebi (udang kering) dan kedelai goreng. Sungguh, citarasa yang tidak dapat dilupakan.




(dev/gst)