Berburu Nian Gao, Ngalap Berkah

Berburu Nian Gao, Ngalap Berkah

- detikFood
Senin, 04 Feb 2008 15:28 WIB
Jakarta - Nian Gao atau kue keranjang ini memang 'wajib' dihidangkan ketika Imlek tiba. Disusun secara bertingkat dengan kue mangkok merah diatasnya, kue ini melambangkan harapan kemakmuran yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Tepatnya tiga hari lagi, seluruh masyarakat Tionghoa di Indonesia dan bahkan di seluruh dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek yang jatuh tepat pada tanggal 7 Februari 2008. Apa sih yang dimaksud dengan tardisi Imlek? Tardisi perayaan tahun baru Imlek ini sebenarnya telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Dimana perayaan ini berasal dari para petani di negeri Cina dalam menyambut musim semi. Sehingga selain disebut Imlek, perayaan ini juga sering disebut sebagai perayaan musim semi. Sebagai wujud rasa syukur, doa dan harapan para petani agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak lagi.

Beberapa saat yang lalu saya pun sempat menemani salah seorang teman yang sudah mulai berburu kue keranjang di daerah Glodok. Salah satu kue yang 'wajib' ada pada saat Imlek ini adalah kue keranjang atau Nian Gao. Biasanya kue tersebut diletakkan diatas altar sebagai sesaji untuk para leluhur dan disantap seusai sembahyang. Seperti biasa ketika Imlek tiba, Glodok pun disulap layaknya Pacinan. Beragam pernak-pernik dari amplop ang pao, hiasan Imlek, lampion, hingga hidangan Imlek seperti manisan, kue keranjang dan sebagainya memenuhi kawasan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nian sendiri dalam bahasa Cina berarti tahun dan Gao berarti kue yang dalam bahasa Cina juga terdengar seperti kata tinggi. Nah, tak heran kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Bahkan pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya sususan kue keranjang dapat menandakan kemakmuran sang pemilik rumah. Setelah berputar-putar sambil membandingkan harga tampaknya toko 'Yap Heng Lay' yang letaknya paling depan inilah yang memberi harga termurah untuk kue yang warnanya kecoklatan tersebut.

Sekotak kue keranjangan import dari Malaysia dengan isi 4 (250gr per buah) dan isi 2 (500gr per buah) dihargai hanya Rp 20.000,00. Harga ini sangat jauh lebih murah dibanding harga di mal atau supermarket yang mencapai Rp 32.500,00 sekotak. Bahkan kue keranjang yang terbuat dari beras ketan dan gula pasir yang dikukus kurang lebih delapan jam ini kini seiring waktu dikemas dengan variasi dan bentuk yang makin memikat mata.

Kue keranjang asli pengrajin Indonesia keturunan Tionghoa yang terdapat di daerah Tangerang dan juga Bogor sendiri biasanya dibungkus daun pisang tanpa merk. Rasanya manis dan agak mirip dengan dodol. Kini makin susahnya dijumpai daun pisang membuat kue keranjang pun dibungkus dengan plastik. Bahkan jika dulu kue keranjang hanya berwarna kecoklatan, kini ada pula paduan warna hijau dan coklat asal malaysia yang di Glodok sendiri dihargai seharga Rp 8000,00 serta yang berbentuk seperti tail emas yang dihargai Rp 13.000,00. Harga tersebut tentu saja jauh lebih murah dibanding harga jual di mal.

Tetapi semuanya kami serahkan kepada Anda. Jika ingin harga murah tapi siap berdesak-desakan mampir saja ke Gloria, Glodok. Jika suka nuansa serba nyaman, Anda bisa mencarinya di supermarket atau mal terdeket. Nah, bagi yang merayakan kami ucapkan 'Gong Xi Fat Choi' dan selamat berburu kue keranjang ya!! (dev/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads