ADVERTISEMENT

Seru! Rebutan Kupat Jembut Saat Tradisi Syawalan di Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikFood
Selasa, 10 Mei 2022 13:30 WIB
Berbagi kupat jembut dan uang dalam tradisi Syawalan di Pedurungan, Senin (9/5/2022).
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng
Jakarta -

Setelah ramadan, banyak orang memperingati bulan syawal dengan berpuasa. Ada juga tradisi syawalan dengan berbagi uang dan kuliner khas, kupat jembut. Begini keseruannya!

Di Semarang, bulan syawal disambut dengan istimewa. Masyarakat daerah Pedurungan, misalnya, menggelar tradisi syawalan yang meriah.

Terdapat kuliner khas dalam perayaan ini. Bernama kupat jembut, olahan ketupat ini diberi isian tauge, kubis, atau kol serta beberapa sayuran lain. Isian ini dibuat menyembul sehingga terlihat seperti rambut kelamin saat ketupat dibelah.

Tradisi berbagi kupat jembut itu digelar pada Senin pagi (9/5/2022). Acara diselenggarakan pada pagi hari usai jemaah Subuh, diawali suara ketukan listrik bertalu-talu untuk memanggil warga di Kampung Jaten Cilik.

Para warga, kebanyakan anak-anak, segera keluar rumah dan mencari sumber suara. Di tempat itu sejumlah warga siap membagikan kupat jembut yang di dalamnya juga berisi uang yang diikatkan.

Berbagi kupat jembut dan uang dalam tradisi Syawalan di Pedurungan, Senin (9/5/2022).Berbagi kupat jembut dan uang dalam tradisi Syawalan di Pedurungan, Senin (9/5/2022). Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng

Bocah-bocah itu langsung berebut makanan itu dengan wajah sumringah. "Seru, tadi sempat keinjak-injak juga kakinya. Ini dapat ketupat isi sayur sama ada juga ketupat isi uang," ujar salah satu anak, Zahira (15) yang kelelahan berlarian, Senin (9/5/2022).

Baca Juga: Ketupat Jembut, Tradisi Syawalan yang Digemari Anak-anak di Semarang

Sedangkan di Kampung Pedurungan Tengah, tradisi ini digelar lebih tertib. Tidak terlihat adanya anak-anak yang berebut.

Warga membagikannya dari rumah ke rumah. Tidak hanya anak-anak, sejumlah ibu-ibu juga kebagian kupat jembut dengan bonus uang di dalamnya.

Berbagi kupat jembut dan uang dalam tradisi Syawalan di Pedurungan, Senin (9/5/2022).Berbagi kupat jembut dan uang dalam tradisi Syawalan di Pedurungan, Senin (9/5/2022). Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng

Imam Masjid Rhoudotul Muttaqiin, Munawir mengatakan tradisi itu sudah hidup puluhan tahun. Mereka menjaga tradisi itu untuk memperkuat semangat berbagi saat perayaan Idul Fitri.

Dia menyebut tradisi itu muncul sekitar tahun 1950, pada masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pada saat itu banyak warga yang mengungsi namun tetap ingin merayakan Lebaran.

Berbagi kupat jembut dan uang dalam tradisi Syawalan di Pedurungan, Senin (9/5/2022).Berbagi kupat jembut dan uang dalam tradisi Syawalan di Pedurungan, Senin (9/5/2022). Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng

"Warga sini yang mengungsi di daerah Mranggen pulang sekitar tahun '52 jelang Lebaran. Terus karena keterbatasan dana, warga berinisiatif membuat kupat dengan menu sederhana. Yaitu kupat dibelah tengah dan diisi tauge, kol dan kelapa terus dibagikan ke tetangga yang tidak punya," ujar Munawir.

Bagaimana rasa kupat jembut? Sebenarnya tidak ada yang istimewa karena sama seperti memakan ketupat dengan gudangan atau urap. Namun yang istimewa yaitu kebersamaan saat tradisi ini berlangsung setahun sekali.

Baca Juga: Seru! Berburu Kupat Jembut Saat Syawalan di Semarang



Simak Video "Serunya Berebut Kupat Jembut saat Perayaan Syawalan di Semarang"
[Gambas:Video 20detik]
(yms/adr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT