Tahu Bungkeng, Cikal Bakal Tahu Sumedang yang Ada Sejak 1917

Nur Azis - detikFood
Senin, 28 Mar 2022 16:00 WIB
Tahu Sumedang
Foto: Nur Azis
Sumedang -

Tahu Sumedang yang renyah kini digemari banyak orang. Tahukah kamu kalau tahu Sumedang punya sejarah panjang? Semua berawal dari Tahu Bungkeng pada tahun 1917.

Tahu Sumedang jadi salah satu jajanan tahu favorit orang Indonesia. Warnanya kecokelatan dengan bagian dalam berwarna putih.

Tahu Sumedang punya ciri khas tekstur luarnya yang garing dan dalamnya yang lembut. Tahu ini juga tidak padat, tetapi agak kopong bagian dalamnya.

Menilik sejarahnya, tahu Sumedang ternyata punya kisah menarik. Berawal dari tahun 1917 ketika penjual tahu asal Tiongkok bernama Bungkeng menjajakan dagangannya.

Gerai Tahu Bungkeng sendiri dikenal sebagai gerai pertama tahu Sumedang. Lokasinya di di Jalan 11 April, No. 53, Kotakaler, Sumedang Utara.

Kisah tahu Bungkeng dimulai dari imigran Tiongkok bernama Ong Kino bersama istrinya yang tinggal di Sumedang pada awal abad 20-an atau pada 1900-an.

"Ong Kino bikin tahu awalnya tidak untuk jualan, tapi awalnya untuk membahagiakan istrinya yang rindu akan makanan tradisional khas Tiongkok sana. Saking sayangnya ia pun akhirnya membuatkannya," ungkap Edric Wang generasi kelima dari Ong Kino atau anak dari Suryadi Ukim pemilik gerai tahu Bungkeng saat diwawancara detikjabar belum lama ini.

Pengolahan Tahu SumedangProses pengolahan tahu Sumedang secara tradisional. Foto: Nur Azis/detikcom

Edric memaparkan, Ong Kino yang telah membuat makanan olahan berbahan dasar kedelai tersebut, kemudian membagikannya kepada orang-orang di lingkungan sekitar untuk mencicipinya.

"Dan orang-orang yang dikasih itu bilang bahwa tahu buatan Ong Kino enak, mereka pun menyarankan Ong Kino untuk membuka usaha tahu di Sumedang," paparnya.

Edric mengatakan, meski pada waktu itu masih sangat sederhana, Ong Kino pun mencoba berjualan tahu di lokasi dimana gerai tahu Bungkeng berdiri kini.

"Ong Kino pertama jualan memang disini, di depan situ, di tempat yang sekarang ini," kata Edric.

Suryadi Ukim di tempat yang sama menambahkan, Ong Kino sendiri datang ke Sumedang tidak lain tujuannya untuk berdagang pada sekitar tahun 1900-an.

"Jadi datang ke Sumedang ini ya tujuannya memang berdagang, waktu itu selain menjual tahu, juga dagang yang lain," ujarnya.

Pasalnya, sambung Suryadi, makanan tahu belum begitu populer seperti sekarang atau boleh dibilang belum laku.

"Iya tahu kan makanan ciri khas orang Cina, jadi belum begitu laku dan dijualnya pun masih kepada rekan-rekan terdekat ke sesama Cina perantauan," terangnya.

Baru pada sekitar tahun 1917, anaknya Ong Kino, yakni Ong Bungkeng menyusul ke Sumedang untuk melanjutkan usaha ayahnya itu.

M.Luthfi Khair A dan Rusydan Fathy dalam Tahu Sejarah Tahu Sumedang, (LIPI Press, 2021 : 49) mengungkapkan, tahu yang dibuat Ong Kino kala itu adalah tahu putih khas Tiongkok yang penyajiannya dengan cara direbus. Tahu tersebut hanya dikonsumsi oleh Ong Kino bersama istrinya dan terkadang dibagikan ke sesama warga etnis Tionghoa pada saat perayaan hari raya.

Tahu buatan Ong Kino kala itu mendapat respon cukup baik dari lingkungan sekitarnya. Hingga kemudian, ia pun mencoba untuk menjualnya. Namun sayang, tahu yang dijualnya tidak begitu laku.

Hingga di tangan Ong Bungkeng-lah, makanan olahan kedelai itu sangat laku terjual hingga populer seperti sekarang. Olahan tahu peninggalan ayahnya dikreasikan kembali sedemikian rupa menjadi serupa cemilan dengan warna kecoklatan, bertekstur renyah di luarnya namun empuk dan berisi di dalamnya saat digigit.

"Ong Kino sendiri memilih kembali lagi ke Tiongkok pada sekitar tahun 1940-an, sementara Ong Bungkeng sejak tahun 1917 tidak pulang lagi dan melanjutkan usahanya dan meninggal di Sumedang," ungkap Suryadi.

Suryadi menyebutkan, Ong Bungkeng melanjutkan usaha ayahnya dari tahun 1917 sampai 1980-an. Darisana, kemudian dilanjutkan oleh Ong Yukim yang tidak lain ayah dari Suryadi sendiri pada sekitar tahun 1950 - 1960.

"Dari Ong Yukim ayah saya, baru dilanjutkan oleh saya dan sekarang mulai diturunkan ke anak saya, Edric," ujarnya.

Tahu SumedangGerai Tahu Bungkeng yang legendaris di Sumedang Foto: Nur Azis

Tahu Bungkeng sendiri kini telah memiliki 3 gerainya di Sumedang. Diantaranya di Jalan 11 April, Jalan Mayor Abdurahman dan Jalan Prabu Gajah Agung

Seiring semakin dikenalnya tahu Sumedang, kata Suryadi, seiring itu pula mulai bermunculan perajin-perajin tahu lainnya, seperti Babah Hek, Babah Kincay, Aniw (sekarang berganti jadi toko Elektronik di Jalan Mayor Abdurahman) dan Ceq xi Gong.

"Kalau yang bekas dari karyawan Ong Bungkeng yang sukses itu tahu Saribumi dan tahu Ojo," sebutnya.

Berawal dari para perajin imigran asal Tiongkok, kini perajin tahu Sumedang sudah banyak tersebar bahkan banyak dari penduduk lokal yang telah pandai membuat panganan berbahan dasar kedelai tersebut.

Tidak hanya di Sumedang, namun kini para perajin ada juga yang tersebar di luar Sumedang. Seolah tidak lekang dimakan zaman, tahu Sumedang hingga kini masih tetap eksis dan masih banyak peminatnya.

Baca Juga: Tahu Bungkeng, Sang Perintis yang Tetap Eksis hingga 105 Tahun