Pedas Mampus! Berani Cicipi Mie Semeru dengan Sensasi 130 Cabai?

Jihaan Khoirunnisa - detikFood Jumat, 22 Okt 2021 19:42 WIB
Mie Semeru Foto: Dok. Mie Semeru
Jakarta -

Tren makanan pedas masih belum usai meskipun sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Hidangan seperti mie pedas disebut tidak pernah kehilangan peminat. Karena selain selera, kenikmatan makanan pedas juga mengundang rasa penasaran untuk mencobanya.

Hal ini diakui oleh Hilda Marhandy, pengusaha 'Mie Semeru' asal Lumajang. Dia mengatakan berdasarkan data mie pedas masih memiliki tempat di hati para penikmat kuliner di Indonesia, terutama untuk daerah Jawa Timur. Bahkan, dia memprediksi tren ini masih akan terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan.

"Masih diminati. Sesuai data untuk mie iblis, mie setan masih sangat tinggi (peminatnya). Terutama di Jawa Timur itu sangat tinggi sekali. Trennya juga bakal naik banget," ujarnya kepada detikcom.

Hilda mengaku selama pandemi usaha mie pedas miliknya masih terus ramai diburu pembeli. Meski dirinya sempat mengalami penurunan penjualan hingga 12 persen.

"Di lapangan pun sama, ramai terus. Pandemi juga masih ramai. Turun iya sekitar 10-12 persen. Tapi masih oke lah untuk segitu. Karena masih aman daripada sektor atau jenis makanan yang lain," katanya.

Agar tampil beda dari bisnis mie lainnya, Hilda pun memilih nama yang terbilang unik. Nama "Semeru" sendiri menurutnya terinspirasi dari nama gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru.

"Kita juga membawa tema 'Semeru', gunung tertinggi di Pulau Jawa. Jadi namanya pakai nama di gunung, ada Kalimati, Sempol. Level kepedasan juga dinamai sesuai kedaruratan bencana," tuturnya.

Adapun untuk tingkat kepedasan, lanjut dia, terdiri dari level aman tanpa cabai, normal, waspada, siaga, awas, level hingga evakuasi dengan 130 cabai setan. Selain itu, menurut Hilda yang membuat Mie Semeru berbeda yaitu variasi menu yang beragam, mulai dari mie awan, mie lava, bakmi, mie ayam, sampai mie original Semeru yang paling diburu oleh pembeli.

Di samping mie, dia juga menyajikan menu kekinian lainnya, seperti ayam geprek dan baso aci. Menurutnya strategi bisnis semacam ini diperlukan agar usaha Mie Semeru tetap bertahan. Hilda menyebut dirinya juga terus mengeluarkan inovasi menu baru setiap 4 bulan sekali. Hal ini supaya konsumen tidak bosan.

"Menu baru juga terus kami keluarkan minimal 4 bulan sekali. Bergantian karena melihat market. Tiap 4 bulan kami pasti mengeluarkan mie baru. Inovasi digenjot terus dan tetap memperbaiki manajemen," tuturnya.

Saat ini, Mie Semeru telah memiliki 3 cabang yang tersebar di 2 kota, yaitu Lumajang dan Purwodadi. Di sana, penikmat kuliner akan dimanjakan dengan beragam menu yang nikmat. Tidak hanya itu saja, harga makanan pun cukup terjangkau. Hanya dengan Rp 8999, masyarakat bisa mencicipi lezatnya hidangan pedas di Mie Semeru.

"Saat ini kami sudah punya 4 cabang. Tapi yang aktif 3 cabang di 2 kota seperti Jember dan Lumajang. Next bakal ada di Malang, Sidoarjo, dan Surabaya," pungkasnya.

Sebagai informasi, Hilda merupakan foodpreneur peserta 'Kembangkan Bisnis Kulinermu'. Acara ini digelar oleh detikcom bersama Kraft Heinz Food Service demi mendukung usaha kuliner Tanah Air agar bisa naik kelas.



Simak Video "Ciptakan Inovasi untuk Hadirkan Peluang Baru Usahamu"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com