Cerita Susi Pudjiastuti Tentang Ikan Sidat yang Nyaris Punah

Faizal Amiruddin - detikFood Jumat, 09 Apr 2021 14:00 WIB
Cerita Susi Pudjiastuti Tentang Ikan Sidat yang Nyaris Punah Foto: Faizal Amiruddin/detikcom
Pangandaran -

Salah satu kuliner khas Pangandaran adalah pepes ikan sidat. Ikan ini bentuknya seperti belut. Salah satu pembedanya adalah sidat memiliki sirip, sementara belut tidak.

Namun sayang belakangan ini sidat sudah jarang ditemui, menghilang dari habitatnya di sungai dan muara. Menu pepes sidat sudah lama menghilang dari rumah makan atau warung nasi yang ada di Pangandaran. Padahal sidat lezat dan gurih, tekstur dagingnya khas, beda dengan ikan lain.

"Dulu saya sering makan pepes sidat di warung nasi di daerah Kecamatan Padaherang, sekarang sudah tidak ada," kata Susi Pudjiastuti, saat menghadiri acara pemusnahan alat tangkap baby lobster di lapang Katapang Doyong Pangandaran, Selasa (6/4/2021).

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu mengatakan bahwa sidat sudah masuk ke dalam satwa appendix 2. Golongan ini adalah hewan langka yang dilindungi di alamnya. "Sidat proteinnya luar biasa, omeganya tinggi sekali," kata Susi.

Cerita Susi Pudjiastuti Tentang Ikan Sidat yang Nyaris PunahCerita Susi Pudjiastuti Tentang Ikan Sidat yang Nyaris Punah Foto: Getty Images/iStockphoto/PicturePartners

Susi mengatakan salah satu penyebab sidat mulai langka karena adanya aktivitas penangkapan larva sidat atau glass eel. "Langka karena glass eel diambilin, satu kilogram harganya Rp 5 juta lebih. Padahal dalam satu kilogram glass eel itu ada 100 sampai 500 ribu ekor sidat," kata Susi.

Penangkapan glass eel itu menurut Susi merugikan secara ekonomis. Karena jika glass eel itu dibiarkan tumbuh di sungai nilainya bisa lebih besar. Karena harga 1 kilogram sidat bisa mencapai Rp 50 ribu, bahkan untuk sidat bobot lebih dari setengah kilogram, harganya Rp 200 ribu.

"Kalau glass eel lepas ke sungai, gede, satu kilo harganya Rp 50 ribu. Yang setengah kilo ke atas bisa sampai Rp 200 ribu.Tapi sayang, sekarang susah karena hampir punah," kata Susi.

Susi memaparkan serupa dengan lobster, sidat juga belum bisa dikembangbiakan di laboratorium atau hatchery. Bahkan sejauh ini proses reproduksi sidat masih menjadi misteri para ahli.

Menurut Susi dari habitatnya di sungai dan muara, sidat dewasa bermigrasi melintasi samudera untuk menuju laut Sargasso. Laut Sargasso terletak di sebelah selatan Bermuda dan sebelah timur Florida. Laut Sargasso memiliki palung yang kedalamannya melebihi tinggi gunung Mc. Kinley sebuah gunung tertinggi di Amerika Utara. Di laut dalam inilah hewan bernama latin Anguilla dari seluruh dunia berkumpul.

"Sidat dewasa dari seluruh dunia berkumpul di Sargasso Sea di Mediterania. Yang dari Pangandaran, dari Sidareja, dari Cikidang, dari Padaherang, dari Alaska semua menuju ke sana untuk kawin," kata Susi.

Cerita Susi Pudjiastuti Tentang Ikan Sidat yang Nyaris PunahCerita Susi Pudjiastuti Tentang Ikan Sidat yang Nyaris Punah Foto: Getty Images/iStockphoto/PicturePartners

Setelah kawin dan telur menetas, anak-anak Sidat itu lalu kembali ke asalnya. Menempuh jarak ribuan kilometer dan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun, mereka kembali ke asalnya. Mereka tumbuh di perjalanan, meski mayoritas kandas di tangan predator.

"Setelah kawin anaknya menetas, terus balik ke negerinya masing-masing. Itu sidat ukurannya kecil, segede sedotan aja masih gede sedotan. Mereka balik ke kampungnya. Nggak kesasar, GPS-nya hebat buatan Tuhan," kata Susi.

Lebih lanjut Susi berharap masyarakat memiliki kesadaran untuk sama-sama melestarikan laut. Menurut dia 79 persen wilayah Indonesia adalah laut.

"Jadi kalau kita berharap banyak dari laut, ya harus dan itu benar. Tapi laut itu sulit dipagar, sulit dijaga dan sulit dikelola. Jadi kalau sekarang masyarakat Pangandaran memiliki kesadaran untuk sama-sama menjaga dan melestarikan laut saya sangat berterimakasih. Kearifan lokal ini harus dijaga," kata Susi.

(adr/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com