Harga Kedelai Makin Mahal, Perajin Tahu Tempe Mogok Massal

Tim Detikfood - detikFood Sabtu, 02 Jan 2021 13:30 WIB
Seorang perajin tempe di kawasan Pasar Minggu Jakarta Selatan, Senin (26/8/2013) terlihat masih beraktifitas seperti biasa meski harga kedelai impor melonjak sangat tinggi. Harga kedelai import naik ke level tertinggi sejak Juni 2013 lalu. Sekitar hampir 90 persen kedelai kita yang digunakan untuk produksi tempe dan tahu adalah import. Para pengrajin tempe tahu menjerit dan bahkan hampir tak berproduksi. File/detikFoto. Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Beberapa hari ini penjual tahu dan tempe berhenti jualan karena tak ada pasokan dari perajin. Perajin memutuskan mogok massal berproduksi.

Tahu dan tempe merupakan makanan sumber protein yang harganya sangat terjangkau. Karenanya sangat populer sebagai sumber asupan protein. Kedua produk ini memakai kedelai sebagai bahan utamanya.

Dilansir dari CNBC Indonesia (02/1) perajin tahu dan tempe memutuskan untuk berhenti melakukan penjualan selama 3 hari. Mulai tanggal 1 Januari kemarin hingga 3 Januari esok. Langkah ini tidak lepas dari naiknya harga kedelai secara drastis. Akibatnya, pasokan tempe dan tahu menjadi sangat langka di pasaran.

"Kita mogok penjualan tanggal 1,2 dan 3 ini sementara mogok produksi 30,31 dan 1 Januari kemarin. Karena tempe ada prosesnya seperti fermentasi dan lain, yang dijual hari ini, bisa produksi dari hari kamisnya bahkan rabunya," kata Ketua Sahabat Perajin Tempe Pekalongan Indonesia (SPTP I ) Jakarta Barat, Mu'alimin kepada CNBC Indonesia, Sabtu (2/1).

kedelaiHarga Kedelai Makin Mahal, Perajin Tahu Tempe Mogok Massal Foto: iStock

Langkah itu mau tidak mau menjadi opsi terakhir bagi perajin karena hingga kini harga kedelai terus melonjak tajam. Ia menjelaskan bagaimana harga kedelai bisa terus naik setiap harinya. Kondisi itu menyulitkan bagi perajin, karena kenaikannya sudah tidak lagi wajar.

"Kenaikan kedelai nggak stabil. Harganya naik di hari ini, besoknya naik lagi. Harga normal di angka Rp. 6.500 - 7.000/Kg. Sekarang sampai Rp. 9.200 bahkan 10 ribu, bahkan ada yang lebih dari 10ribu/Kg," katanya.

Alhasil, dengan harga penjualan normal, perajin sudah tidak lagi mendapatkan untung. Sebaliknya, jika harus menaikkannya maka konsumen yang akan mempertanyakan alasan kenaikannya.

"Karenanya kami ingin konsumen tau harganya naik, sehingga pedagang bisa naikkan harganya secara nggak susah, konsumen nggak nanya. Kalau tiba-tiba naik tanpa ada info mereka juga mempertanyakan," jelasnya.

Pantauan detikcom, gerai-gerai tahu goreng kekinian masih menjual produk tahu sampai siang ini. Seperti tahu kriuk, tahu go, tahu gejrot dan lainnya.

Meskipun para tukang sayur dan penjual tahu dan tempe di pasar tradisional sudah tidak menjual produk olahan kedelai tersebut. Mereka juga tak tahu sampai kapan pasokan tahu dan tempe akan terhenti.



Simak Video "Bikin Laper: Sensasi Nongkrong Hits di Bawah Pepohonan"
[Gambas:Video 20detik]
(odi/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com