3 Jenis Gula Merah, Ada yang Berasal dari Pohon Lontar dan Kelapa

Sonia Basoni - detikFood Senin, 30 Nov 2020 15:30 WIB
3 Jenis Gula Merah, Ada yang Berasal dari Pohon Lontar dan Kelapa Foto: iStock/Istimewa
Jakarta -

Meskipun sama-sama berwarna cokelat dan manis, gula merah banyak jenisnya. Ada yang diproses dari pohon lontar dan pohon kelapa.

Sudah ada sejak dulu, gula merah banyak ragamnya di Indonesia. Berbeda dengan gula tebu, gula merah menyimpan banyak manfaat dan karakteristik rasa manis yang unik.

Jenis-jenis gula merah diungkap dalam webinar 'Indonesian Palm Sugar' (28/11), yang diselenggarakan oleh organisasi Slow Food Jakarta, Terra Madre Indonesia dan Parara Archipelago. Dibahas tentang jenis gula merah di Indonesia yang unik serta proses pembuatannya.

Berikut pengenalan lebih dalam tentang variasi gula merah di Indonesia.

Baca Juga: Mau Bikin Saus Gula Merah yang Enak? Ikuti Cara Ini!


Jenis Gula Merah di Indonesia

gula merahgula merah Foto: iStock

"Jauh sebelum gula tebu hadir di Indonesia. Gula merah sudah digunakan selama berabad-abad. Sayangnya banyak yang belum tahu tentang keanekaragaman gula merah yang berbeda," jelas Mei Batubara selaku perwakilan dari Nusa Gastronomy Foundation.

Acara webinar ini juga dihadiri langsung oleh langsung oleh Luther Tarigan selaku Ketua Petani Gula Merah di Deliserdang. Kemudian ada Bibong W selaku organic educator dan petani, serta Chef Ragil Imam Wibowo yang memandu food tasting gula merah.

"Indonesia sangat kaya dengan kekayaan alamnya. Salah satunya gula palma. Gula palma merupakan gula yang diolah dari nira pohon palem. Di Indonesia ada beberapa jenis gula palma. Sepertu gula kelapa, gula aren dan gula lontar," jelas Bibong.

Ketiganya memiliki proses pengolahan dan rasa yang berbeda. Bibong menjelaskan bahwa ketiga gula ini lebih sehat dibandingkan dengan gula tebu biasa.

"Menurut beberapa penelitian, gula aren merupakan salah satu sumber antioksidan alami. Di mana antioksidannya jauh lebih tinggi dibandingkan gula tebu. Begitu juga dengan gula lontar," lanjutnya.


Ciri Khas Gula Merah yang Unik

gula merahgula merah Foto: iStock

Hampir setiap daerah memiliki ciri khas gula merah masing-masing. Seperti yang diungkapkan oleh Luther, petani gula merah yang aktif budidaya gula aren di Deli Serdang, Sumatera Utara.

"Kami di sini mengolah gula merah aren menggunakan tradisi yang sudah ada dari nenek moyang kami. Pertama kami cari pohon aren yang bagus. Lalu kami bersihkan pohonnya sebelum disadap air niranya, tangkai pohon itu kami pukul secara perlahan menggunakan kayu," Jelas Luther.

Uniknya lagi para petani tidak boleh menggunakan sembarang kayu untuk memukul tangkai pohon aren.

Mereka wajib menggunakan tiga jenis kayu dari pohon raja, pete Cina, sampai pohon sawo. Karena ketiga kayu ini sudah menjadi tradisi dari leluhur mereka saat menyadap air nira.

Mereka juga menggunakan bunga sapa yang digosokkan pada tangkai palem, agar air nira yang keluar lebih banyak.

Setelah air nira berhasil disadap dari pohon aren. Baru air nira diolah menjadi gula cetak, prosesnya memakan waktu sekitar 4-5 jam untuk mengubah nira menjadi gula.

Kemudian cairan gula aren yang sudah matang dicetak menggunakan bambu dan disimpan rapat-rapat, agar kualitasnya masih baik meski sudah disimpan berbulan-bulan.


Proses Pengolahan yang Serupa

Petani menyadap pohon aren di Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). Dalam sehari petani tersebut mampu mengumpulkan air nira aren sebanyak tiga sampai lima liter yang kemudian diolah menjadi gula merah dan dijual Rp15 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram. ANTARA FOTO/Candra Yanuarsyah/agr/aww.Petani gula merah. Foto: ANTARA FOTO/CANDRA YANUARSYAH

Selain gula aren, gula kelapa juga memiliki proses pengolahan yang hampir mirip. Sementara yang berbeda ada gula lontar. Gula ini diolah dari air nira pohon lontar yang banyak ditemukan di Indonesia Timur.

Jika gula aren dan gula kelapa lebih populer dicetak jadi gula kotak. Kalau gula lontar umumnya disajikan dalam bentuk cair karena kandungan gulannya yang cukup rendah.

Karakteristik Gula Merah yang Berbeda

3 Jenis Gula Merah, Ada yang Berasal dari Pohon Lontar dan Kelapa3 Jenis Gula Merah, Ada yang Berasal dari Pohon Lontar dan Kelapa Foto: detikFood

Untuk masalah rasa, Chef Ragil menjelaskan ketiga karakteristik gula merah ini.

"Kalau menurut saya gula aren memiliki rasa manis yang natural. Ada sedikit asam tapi tidak terlalu dominan. Rasa gula aren cenderung lebih ringan," ungkap Chef Ragil.

Kemudian untuk rasa gula kelapa, Chef Ragil menemukan rasa minyak kelapa yang terasa pertama kali. Setelah rasa minyak kelapanya hilang, baru disusul rasa manis gula. Berbeda dengan aren, gula kelapa tidak mengandung rasa asam. Tapi ada rasa umami yang asin di bagian akhir gula ini.

Terakhir ada gula lontar yang menurut Chef Ragil punya perpaduan rasa yang cukup unik.

"Gula lontar rasanya lebih menarik. Ada rasa asam dari hasil fermentasi air nira. Karena ketika air nira diambil dari pohon lontar itu tidak langsung diproses. Jadi rasa asamnya ini berasal dari sana. Meski asamnya cukup dominan, tapi ada rasa fruity yang disusul rasa manis di belakang," pungkas Chef Ragil.

3 Jenis Gula Merah, Ada yang Berasal dari Pohon Lontar dan Kelapa3 Jenis Gula Merah, Ada yang Berasal dari Pohon Lontar dan Kelapa Foto: iStock/detikFood

Ketiga rasa gula merah yang berbeda ini, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keragaman gula yang menarik untuk dibahas.

Di akhir webinar, Chef Ragil dan semua pembicara berharap dapat memperkenalkan keanekaragaman pangan di Indonesia. Terutama dalam memperkenalkan ragam gula merah lokal.

"Ada lebih banyak gula merah di Indonesia dan semua rasanya berbeda. Karena rasa gula ini terpengaruh dari tempat hingga proses pengolahannya," pungkas Chef Ragil.

Selain gula merah, ada juga madu hutan Apis Dorsata yang jadi produk unggulan madu lokal dari Indonesia. Madu yang satu ini diolah dari lebah Apis Dorsata yang hanya ditemukan di dalam hutan lebat.

Baca Juga: Madu Hutan Apis Dorsata, Madu Lebah Raksasa dari Indonesia



Simak Video "Legitnya Nasi Tueh Khas Sibolga!"
[Gambas:Video 20detik]
(sob/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com